Renungan Harian, 24 Juli 2019
Matius 6 : 25 – 34

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Perikop ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menjadi orang yang kuatir jika kita telah hidup di dalam Tuhan. Tuhan mengatakan dalam FirmanNya, kekuatiran tidak akan menambah sedikitpun  apa yang ada pada kita. Kekuatiran tidak akan menambah apapun yang baik dalam kehidupan kita, sebaliknya dengan kuatir justru kita semakin meragukan Tuhan dalam hidup kita. Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa kuatir.

Adalah sebuah kisah seorang anak yang telah kehilangan salah satu orangtua yang selama ini menjadi tulang punggung dalam keluarganya. Pergi dengan menderita sakit telah menghabiskan seluruh tabungan keluarga. Kehidupan seakan berbalik seratus delapan puluh derajat baginya. Bila sebelumnya, ia tidak perlu memusingkan biaya perkuliahan, maka kini ia harus berfikir keras untuk membantu meringankan biaya perkuliahan. Bukan itu saja, kebutuhan akan hidupnya juga seakan semakin terancam. Di masa-masa sulit, ia berencana untuk mencari pekerjaan. Mulai dari melamar di stasiun radio, rumah makan siap saji, pegawai toko, restoran dan masih banyak lainnya, namun hasilnya nihil atau dengan kata lain ditolak. Ia adalah seorang anak muda yang selama ini sangat menyenangi dunia pelayanan, bila dalam organisasi PERMATA, ia telah berulangkali terlibat dalam kepengurusan. Sebelumnya, ia berfikir ‘Dengan melakukan pelayanan, ia merasa akan menyenangkan hati Tuhan, dan ketika Tuhan tersenyum kepadanya, maka Tuhan akan memberkatinya lebih.’ Namun, apa yang terjadi di hadapan sangat diluar dugaan. Ia juga pernah ingin mengambil keputusan untuk berhenti kuliah walau waktu untuk menyelesaikannya hanya tinggal sedikit lagi.

Dalam lelah letihnya, kemudian ia menyediakan waktu kosong untuk menenangkan hati di tengah keadaan yang kacau. Dengan menutup mata dan berdoa sembari menarik nafas, ia berkata “Apa yang harus aku lakukan Tuhan, mengapa semuanya kelihatan seperti sebuah kegagalan ?’. Setelah mengatakannya, terdengar suara yang berkata dalam hatinya “Berjalanlah terus”.

Meyakini akan suara itu, kemudian ia menemukan sebuah semangat baru. Sembari menitikkan air mata dari hari ke hari, ia terus menapaki jalan untuk menyelesaikan studinya. Ibu yang merupakan sahabat baginya kala itu, juga sangat mendukung keputusannya. Setiap kali ia kuatir, ia belajar untuk menepisnya. Uang yang dikumpulkannya untuk tugas akhir hanyalah berasal dari uang saku yang dihemat dengan sangat terlalu. Terkadang, ia juga hanya memilih meminum air dan tidak makan ketika perkuliahan dan proses menyelesaikan tugas akhir menuntutnya harus berada di kampus hingga larut malam. Dan tibalah saat ujian akhir. Hari itu adalah pendaftaran terakhir untuk maju untuk ujian meja hijau, sementara uang untuk mendafatar hingga hari terakhir tidak kunjung didapatkan. Keraguan kemudian muncul, namun suara dalam doa yang selalu diingatnya, mengingatkannya untuk tetap maju. Ia tetap pergi ke kampus seolah-olah uang untuk membayar ujian akhir telah ada, padahal setibanya di kampus ia hanya duduk termenung, berfikir dan berserah. Dalam lamunan kesendiriannya, kemudian ia berkata lirih kepada Tuhan “Tuhan, aku masih tetap percaya, Engkau akan cukupkan”. Satu jam lagi dan pendaftaran pun harus ditutup dan ia belum mendapatkan kabar dari sang ibu bahwa uang telah ada. Sepuluh menit berlalu dari jam yang akan menemui batas, kemudian ia mulai melangkah seakan menyerah. Ia mengumpulkan tenaga untuk menerima dengan ikhlas. Ia kemudian menapakkan kakinya untuk pulang, namun ponsel yang berdering menghentikkan langkahnya. “Ibu sudah dapatkan uangnya. Datang dan ambil sekarang ke tempat Ibu”. Lokasi ibu yang tidak jauh dari kampus kemudian membuatnya berlari menuju ke tempat sang ibu dan kemudian ia harus balik ke kampus untuk segera menuju loket pembayaran. Tepat waktu, walau dalam langkah yang tertatih dan mulai kelelahan dan mengatur nafas, akhirnya ujian akhir tidak lagi menjadi impian namun kenyataan. Ia lulus dengan hasil yang memuaskan.

Dari kisah ini kita perlu belajar untuk tidak khawatir. Tuhan mengerti dan memahami apa yang kita butuhkan dan jawaban Tuhan akan selalu datang tepat waktu. Tuhan katakan “Kesusahan sehari hanyalah untuk sehari”. Arti dari kalimat ini sangatlah dalam. Artinya, ketika pergumulan yang datang teramat berat, Tuhan tetap katakan untuk tidak khawatir. Tidak perlu berfikir terlalu keras namun tetaplah berfokus kepada Firman Tuhan, maka Firman Tuhan itu sendirilah yang akan membakar setiap masalah dalam kehidupan kita dan menjadikannya berkat. Tuhan Yesus, adalah Tuhan yang selalu menggenapi setiap janjiNya bagi kita. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia-lah yang memelihara kita. Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk menyerah, namun berserah. Berserah kepadaNya. Karena itu, tetaplah percaya dan jangan khawatir.

Post Terkait