Renungan Harian, 15 Agustus 2019
Galatia 2 : 20

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.”

Di dalam diri setiap manusia, terdapat Roh Allah yang telah diberikan Allah bagi kita. Ketika Tuhan menghembuskan RohNya melalui nafas kehidupan, kita telah menjadi milikNya dan menjadi bagian dari diri Tuhan. Pemberian RohNya kepada kita menandakan bahwa Tuhan sungguh mengasihi kita. Ini adalah bukti bahwa sejak dari penciptaan, Tuhan Allah sangat mengasihi kita bahkan manusia dibentuk segambar denganNya.

Kehidupan yang dihidupi manusia memang tidak terlepas dari kehidupan daging. Sifat daging itu melekat, artinya manusia memang rentan sekali untuk melakukan keinginan daging yang tidak seturut dengan Firman Tuhan (Galatia 5 : 19 – 21), karena memang manusia terdiri dari daging yang melekat pada tubuh.

Menyadari hal itu, setiap manusia harus mengerti untuk tetap menjadi tuan atas daging dengan melawan segala keinginannya yang melawan kehendak Allah. Tidak jalan lain mengendalikan keinginan daging yang berujung dosa, hanya dengan mendekat kepada Allah, maka iblis yang selalu menggoda melalui keinginan  daging akan lari daripada kita.

Dengan menghidupi Firman Tuhan di dalam kehidupan kita, manusia yang hidup di dalam daging, artinya manusia masih memiliki daging, tidak lagi melekat dengan segala keinginannya, karena daging yang ada pada diri manusia telah diisi dengan Roh Allah melalui FirmanNya. Inilah maksudnya hidup yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.

Setelah kita hidup di dalam Firman Tuhan, maka Roh kita juga akan hidup, menyala nyala sehingga keinginan daging tidak lagi kuat di dalam diri kita karena sudah dikalahkan oleh Firman Tuhan. Inilah alasannya mengapa kita harus terus belajar dan melebur bersama Firman Tuhan. Menyadari bahwa manusia itu lemah, namun kita akan dikuatkan oleh Tuhan melalui FirmanNya, ketika kita hidup di dalam FirmanNya.

Karena hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Ketika kita hidup di dalam Firman Tuhan, maka diri kita tidak lagi berbicara tentang siapa diri kita, melainkan Roh Allah yang ada di dalam diri kita. Diri kita tidaklah lagi penting, namun tentang siapa Yesus yang ada di dalam diri kita, itulah yang terpenting. Artinya, apapun yang terjadi di dalam diri kita, ketika bermegah, kita tidak lagi bermegah karena kita, tetapi bermegah di dalam Kristus, ketika kita merasakan keterpurukan, kita tetap kuat, karena ada pribadi Tuhan dalam RohNya yang ada di dalam diri kita. Karena itu tidak ada alasan kita untuk menjadi sombong ketika berkelimpahan dan juga tidak ada alasan kita untuk menjadi lemah ketika keadaan berat melanda, karena kita percaya, ada hadirat Tuhan Yesus yang berjalan di depan, di samping dan di sekeliling kita. Dan semuanya tentang siapa Tuhan Yesus.

Post Terkait