Renungan Harian, 21 Maret 2019
Amsal 6 : 6 - 11

"Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak : biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan roti di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

Hai pemalas berapa lagi engkau akan berbaring ? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu ? 

Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring

Maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti seorang yang bersenjata.”


PERMATA, hari ini Firman Tuhan mengingatkan dan memberi pengajaran kepada kita untuk tidak menjadi seorang pemalas. Dikatakan bahwa seorang pemalas terus saja menunda-nunda pekerjaan hanya untuk tidur. Lebih lanjut, bahkan Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk belajar dari semut. Semut tidak membutuhkan paksaan untuk bekerja. Pernah lihat kan kumpulan semut yang tetap bekerja dan bekerja sama untuk mengambil makanan remah-remah dan menyimpannya dalam lumbung mereka ? Ya, tanpa pemimpin, pengatur dan penguasa. Mereka melakukannya dengan sukarela dan tidak menunda-nunda. Begitu melihat makanan, kumpulan semut langsung datang untuk bekerjasama mengambil dan menyimpannya.

Seringsekali tanpa sadar, kita menunda pekerjaan hanya dengan alasan malas. Tidak saat teduh karena malas bangun pagi. Tidak bekerja karena malas, tidak pelayanan juga karena malas. Pada akhirnya, kita hanya hidup untuk diri sendiri tanpa memperdulikan orang di sekitar kita.

Menunda sesuatu juga berarti menunda terlaksananya rencana yang telah ditetapkan Tuhan dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak, ketika kita menunda sesuatu hal yang Tuhan ingin kita lakukan, bukankah semuanya akan menjadi mundur ?

Lebih lanjut, Firman Tuhan katakan, upah kepada seorang pemalas adalah mereka tidak akan mendapatkan upah karena tidak ada yang mereka lakukan, sehingga pada akhirnya kemiskinan akan mendatangi mereka. Dapat dibayangkan bila kemiskinan datang seperti penyerbu. Penyerbu dapat diartikan sebagai sesuatu malapetaka yang datang secara bertubu tubi dan kekurangan seperti orang yang bersenjata, yang artinya seorang pemalas akan binasa. Bayangkan saja, bila tentara yang sedang berperang kekurangan senjata, bukankah mereka akan kalah dan mati ?

PERMATA, hari ini kita boleh belajar untuk tidak lagi menunda pekerjaan yang dapat kita kerjakan hari ini. Mengingatkan kita untuk melaksanakan saat teduh dan jangan mencintai tidur, mengerjakan pekerjaan yang dapat kita kerjakan hari ini dan melakukan pelayanan yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Hidup kita berharga di mata Allah, karena itu Tuhan katakan kita seperti biji mataNya. Jadikan hidupmu berharga bagi Allah dengan hidup seturut dengan kehendak dan rencanaNya.

Di dalam diri setiap anak muda orang percaya, terkandung jawaban dari setiap banyak pertanyaan kehidupan. Tuhan menginginkan kita menjadi jawaban, karena Tuhan telah meletakkan itu di dalam diri kita. Karena itu, mulailah mendisiplinkan diri untuk mengerti dan melakukan apa yang Tuhan inginkan. Jangan menjadi seorang pemalas.

PERMATA, selamat mendisiplinkan diri sebagai anak Tuhan.

Post Terkait