Renungan Harian, 23 ktober 2018
2 Korintus 5 : 15 - 16

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Sebab itu kami tidak lagi menilai seseorang juga pun menurut hukum manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian.
Sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kita sudah seharusnya hidup untuk Dia, karena Dia-lah sumber kehidupan. Orang yang sudah hidup baru tidak akan mengalami kematian kekal melainkan kehidupan kekal. Karena Tuhan Yesus bangkit dengan tubuh yang sempurna, memiliki tulang yang sempurna dan RohNya ada di dalamNya, sedangkan bila seseorang berada di kematian kekal, tubuhnya tidak mengalami  kebangkitkan.
Dari segi ke Allah-an, Yesus adalah Roh yang sempurna. Ia menjadi manusia agar sama seperti kita dan untuk menyelamatkan kita. Ia adalah Allah karena itu Ia tidak bisa dijangkau oleh logika manusia, karena logika kita terbatas sedangkan Tuhan Yesus tanpa batas. Kematahuan Yesus tidak bisa dijangkau oleh pikiran manusia, namun ketika kita memilih Yesus sebagai sumber hidup, mampu menyangkal diri dan memikul salib, maka bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil (Lukas 1 : 37).
Seperti ketika Tuhan Yesus memanggil Petrus untuk mengikutNya menjadi penjala manusia, Ia menyuruh Petrus untuk menebarkan jala ikannya. Lalu Petrus mengikuti apa yang Yesus katakan, padahal sebelumnya Petrus berkata, bahwa sepanjang malam mereka telah bekerja keras, namun tidak mendapatkan apa-apa. Namun begitu Petrus menebarkan jalanya, mengikuti apa yang Tuhan katakan, mereka menangkap sejumlah besar ikan sampai jala mereka mulai koyak (Lukas 5 : 4 – 5).
Begitulah jalan yang Tuhan Yesus ajarkan, tidak terselami. Menilai Kristus jangan dari ukuran manusia melainkan ukuran Tuhan. Sama seperti kita juga harus mengalami Yesus dalam kehidupan menurut standarnya Tuhan.

Post Terkait