PERMATAGBKP.org – 

PASKAH: MEMBAWA PENGHARAPAN, MARI BERITAKAN!

(1 Korintus 15:1-58)

Paskah berbicara tentang kematian dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Sebab jika Yesus tidak mati, maka tidak akan ada kebangkitan. Melalui kebangkitan kematian dikalahkan. Paskah berasal dari kata Pesach yang berarti “melewati”. Makna Paskah diawali dalam Perjanjian Lama ketika bangsa Israel keluar dari Mesir. Pada malam sebelum keluar dari Mesir, bangsa Israel harus menyembelih seekor anak domba yang tak bercacat. Darahnya digosokkan pada kedua tiang dan ambang pintu rumah. Pada malam itu, malaikat kematian melewati setiap rumah yang memiliki tanda darah, sehingga kematian anak sulung tidak terjadi (Kel. 12: 1-28). Ini merupakan gambaran dari Yesus Kristus yang adalah Anak Domba yang tak bercacat; Ia disembelih: darahNya digosokkan pada pintu hati kita, sehingga kita luput dari kebinasaan. Paskah dalam Perjanjian Baru: pada hari ketiga setelah kematianNya, Yesus bangkit dalam tubuh yang sempurna dan utuh. Kuasa maut telah dikalahkan, kita sebagai orang percaya memperoleh kemenangan (Bnd. Mat. 27:62-66; Mrk. 16:1-8). Hari Paskah adalah hari merayakan kebangkitan Kristus dan merupakakan perayaan penting. Perayaan Paskah juga dinamakan Minggu Paskah, Hari Kebangkitan atau Minggu Kebangkitan.

Apakah pengharapan orang percaya dibalik Kebangkitan Kristus?

  1. Kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan perubahan hidup (ayat 9-11). Rasul Paulus menjelaskan bahwa Injil itu berisi kematian dan kebangkitan Kristus. Bahkan kebangkitanNya memberi pengharapan akan adanya perubahan hidup. Kita lihat dalam kehidupan Paulus, dia mengalami perubahan status. Dahulu bernama Saulus yang menganiaya pengikut Tuhan (Kis. 9:1-2), setelah Tuhan menampakkan diriNya kepada Saulus di jalan menuju Damsyik (Kis. 9:3-9), jalan hidupnya berubah dari seorang penganiaya menjadi pemberita Injil yang sangat setia sampai akhir hidupnya. Nama Saulus berubah menjadi Paulus yang telah menerima Yesus dan mendapatkan keselamatan. Bagaimana dengan kita khusunya PERMATA GBKP ? Kiranya kebangkitan Kristus yang kita rayakan tahun ini bukan hanya perayaan rutinitas, tetapi kiranya kehidupan kita selaku orang percaya kepada Yesus dapat semakin baik dari hari ke hari. Biarlah kebangkitan Yesus melawat dan menyentuh hati dan pikiran kita, sehingga anugerahNya semakin kita rasakan dan karyakan dalam kehidupan kita.
  1. Kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan kepastian iman (ayat 14,17). Pengharapan akan perubahan hidup tidak bisa ada jika tanpa pengharapan akan kepastian iman. Oleh karena itu, Paulus menegur jemaat Korintus dimana pada waktu itu ada jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan Kristus dengan alasan orang yang mati tidak bisa hidup kembali. Kepada mereka yang tidak percaya, Paulus menegur dan menguatkan mereka, dan mengatakan bahwa Kristus benar-benar hidup dan bangkit. Paulus mengatakan, jika Kristus tidak bangkit maka sia-sialah pemberitaan Injil yang dia sampaikan dan sia-sialah juga kepercayaan mereka. Dengan kata lain, kebangkitan Kristus adalah inti Injil sejati dan iman Kristen. Injil yang memberitakan hanya kematian Tuhan Yesus yang tidak bangkit, belum disebut Injil, karena fakta mengatakan bahwa semua pendiri agama, filsafat, kebudayaan pasti mati, dan itu sama saja. Tetapi ketika Kristus bangkit dari kematian, ini berita sukacita yang tidak bisa dicapai oleh semua agama, filsafat, kebudayaan. Berita sukacita apa yang terkandung di dalam kebangkitan Kristus? Yaitu, Kristus bangkit dan memberikan kepastian iman di dalam dua hal, yaitu: pertama: kepastian iman yang berkaitan dengan keselamatan. Di ayat 19, Paulus mengemukakan bahwa jika kita hanya menaruh pengharapan pada Kristus yang mati dan tidak bangkit, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Mengapa? Karena sama seperti semua pendiri agama, filsafat, kebudayaan, mereka semua mati dan para pengikutnya tidak mendapatkan kepastian pengharapan. Para penganut agama dengan susah payah berbuat baik supaya dia dapat “diselamatkan”, mengapa? Karena para pendiri agama, mereka tidak dapat menyelamatkan mereka. Tetapi puji Tuhan, Kristus bukan hanya mati, tetapi Ia bangkit membuktikan Dia telah menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, serta memberikan keselamatan dan pengharapan kepastian iman bahwa di dalam Kristus sajalah, ada jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6) dan di luar Dia, mutlak tidak ada jalan keselamatan (Kis. 4:12). Kebangkitan-Nya juga menjamin bahwa ketika kita diselamatkan, kita pasti selama-lamanya diselamatkan sampai pada kesudahannya (Yoh. 6:40, 44), mengapa? Karena Dia yang memulai keselamatan, Dia pula lah yang menggenapkannya. Kedua: kepastian iman yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh. Selain kepastian keselamatan, kita juga memiliki kepastian kebangkitan tubuh yang merupakan bagian dari iman Kristen di kekekalan nanti. Hal ini dijelaskan pada ayat 16, di mana Paulus menyinggung sedikit tentang kebangkitan orang mati. Kebangkitan Kristus menjamin bahwa akan ada kebangkitan orang mati. Lalu, bagian ini diuraikan secara jelas di ayat 35-58 tentang natur kebangkitan tubuh. Di ayat 36, Paulus mengajarkan bahwa kebangkitan tubuh berkaitan dengan kematian yang fisik. Artinya, sesuatu tidak akan tumbuh atau hidup jika ia tidak mati terlebih dahulu. Dengan demikian, tubuh kita akan dibangkitkan setelah tubuh kita yang bersifat jasmaniah ini dimatikan. Lebih lanjut, Paulus mengemukakan perbedaan antara tubuh kita yang fana di dunia ini dengan tubuh kemuliaan yang akan kita peroleh nanti, yaitu: pertama, perbedaan sifat waktu (kesementaraan vs kekekalan). Di ayat 42, Paulus mengemukakan bahwa tubuh kita adalah tubuh yang akan binasa, sedangkan tubuh kemuliaan kita nantinya tidak lagi binasa, melainkan bersifat kekal. Berarti tubuh kemuliaan melampaui waktu (tidak diikat oleh waktu kesementaraan). Kedua, perbedaan sifat kualitas (kehinaan vs kemuliaan, kelemahan vs kekuatan). Di ayat 43, Paulus mengemukakan dua hal tentang perbedaan ini, yaitu: tubuh duniawi kita adalah tubuh yang hina dan lemah (bisa sakit, dll), tetapi tubuh surgawi/kemuliaan kita adalah tubuh yang mulia dan kuat (melampaui semua keterbatasan duniawi). Ketiga: perbedaan esensial (alamiah vs rohaniah). Di ayat 44, Paulus mengemukakan bahwa tubuh duniawi kita bersifat alamiah. Artinya, ada unsur kedagingan, lebih menuruti hawa nafsu (hidup menurut daging—bnd. Galatia 5:19-21). Sedangkan, tubuh surgawi kita nantinya bersifat rohaniah. Artinya, kita pasti hidup menurut Roh, menaati apa yang Tuhan perintahkan (bnd. Galatia 5:22-23). Hidup oleh/menurut Roh di tahap kekekalan ini sudah mencapai tahap kesempurnaan yang disebut oleh Bapa Gereja yang bernama Augustinus sebagai: non-posse peccare (tidak bisa berdosa lagi). Kita bisa beriman pada kebangkitan tubuh hanya karena kita sudah beriman pada kebangkitan Kristus yang bersifat jasmaniah. Dan bersama-sama dengan Paulus, kita bisa menantang iblis dan menyatakan kemenangan umat pilihan-Nya karena kemenangan Kristus, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Kor. 15:55-57)

Tidak ada pengharapan selain di dalam Kristus melalui kebangkitanNya. Kristus bangkit, itu membuktikan iman dan pengharapan kita tidaklah sia-sia. Kebangkitan-Nya memberikan kuasa kepada kita melalui Roh Kudus bahwa kita sanggup mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, karena Ia telah mengalahkan segala kuasa bagi umat pilihan-Nya (1 Kor. 15:25-27), supaya kita menjadi hamba-Nya yang setia.

Menjadi perenungan bagi kita: sudahkah PERMATA GBKP menjadi hamba-Nya yang setia yang memberitakan kebenaran Injil Kristus, bahwa Kristus telah mati dan bangkit demi dosa-dosa kita? PERMATA GBKP harus menjadi pembawa berita Paskah yang membawa pengharapan akan kepastian iman. Kebangkitan Yesus membawa keselamatan bagi orang percaya. Untuk itu sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, PERMATA GBKP harus hidup dan mengerjakan keselamatan yang sudah kita peroleh dari Yesus. Di ayat 58: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Mengutip syair lagu KEE No. 295 “Meriahkal ukurku m’ritaken gelarNa. Berita kerna Yesus ras keleng ateNa. Meriahkal ukurku nuriken si benar, peturah kiniteken ukurku tergintar. Pembarkenlah kataNa, kempak kerina jelma, kerna Yesus Tuhanta ras keleng ateNa”. Berita Paskah, berita keselamatan! Mari PERMATA GBKP, nyatakan kuasaNya! Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber : Pdt. Mira Mutianta Br. Sinulingga, S,Th

Post Terkait