Renungan Harian, 06 Maret 2019
Yosua 6

Kota Yerikho adalah kota yang diberikan Tuhan Allah kepada Yosua untuk dikuasai. Setelah dua orang pengintai masuk ke kota itu dan ditolong oleh perempuan sundal yaitu Rahab, maka Tuhan memberikan strategi kepada bangsa Israel untuk menguasai kota itu. Setelah bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, Tuhan Allah memberitahukan kepada bangsa Israel melalui Yosua bagaimana cara menguasai kota itu. Dan apakah kita mengerti, cara yang diberikan Tuhan sangat unik ?

Tuhan meminta bangsa Israel mengedari (mengelilingi) tembok Yerikho tujuh hari lamanya. Enam hari mengelilingi tanpa suara dan tanpa sepatah kata apapun, namun pada hari yang ketujuh, tujuh kali mereka harus mengedarinya dan ketika sangkakala berbunyi panjang, mereka harus bersorak dan akhirnya Tuhan menyerahkan kota Yerikho ke tangan mereka. Tembok yang tertutup dengan penjagaan yang ketat oleh rakyat Yerikho akhirnya runtuh. Bangsa Israel masuk dan menguasainya. Tepat seperti apa yang dikatakan Tuhan kepada Yosua. Semuanya musnah kecuali Rahab dan seisi rumahnya, perempuan yang menyelamatkan dua orang pengintai. Hanya dengan nyanyian bersorak sorai, maka tembok Yerikho runtuh.

Tuhan kita adalah Allah yang detail. Ketika Tuhan memerintahkan kepada kita untuk melakukan sesuatu, maka Ia adalah Allah yang bertanggungjawab dengan membekali kekuatan dan penyertaan agar kita dapat melakukannya, seperti kisah Yosua dan tembok Yerikho ini. Terkadang memang apa yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan sangat unik dan diluar logika kita berfikir, namun bila Tuhan telah memerintahkan, sebaiknya kita tidak perlu berfikir keras dan lakukan saja.

Alkisah seorang gadis yang ingin melepaskan pengampunan. Selama bertahun- tahun ia membenci seseorang yang ia pikir, telah berbuat banyak kesalahan kepadanya. Hatinya yang pernah patah oleh seseorang, telah membuatnya menjadi seorang gadis yang menyimpan kebencian yang begitu lama dan semakin  dalam di hati.

Pada suatu masa, ia telah merasa lelah dengan semuanya dan memilih untuk mengampuni. Kemudian, ia berdoa kepada Tuhan dan berkomitmen untuk membuang kebencian yang ada di dalam hatinya dengan bertanya kepada Tuhan, apa yang sebaiknya ia lakukan ?

Hari pertama sejak ia memutuskan untuk melepaskan pengampunan, ia berdoa kepada Tuhan, namun jawabannya hampa dan kosong. Ia tidak menemukan Tuhan menjawab dalam doanya. Hari kedua hingga hari keempat, ia berdoa dan jawabannya tetap saja kosong. Kebingungan mulai “merajai” pikirannya. Ia mulai bertanya kepada dirinya, “apa yang sebenarnya Tuhan ingin aku lakukan ? Apakah Tuhan tidak melihat keseungguhanku ? Pertanyaan ini selalu saja berada di dalam pikirnya selama berhari-hari.”

Pada hari yang kelima, ia mengambil sikap lebih sungguh untuk berdoa. Sebelum meminta, ia mengatakan kepada Tuhan tentang komitmennya untuk melepaskan pengampunan untuk seseorang yang selama ini telah ia benci, kepada Tuhan. Ia mulai bercerita kepada Tuhan dari awal hingga akhir. Sampai di penghujung doa dan setelah kata amin, ia tak kunjung menemukan apa yang harus ia lakukan untuk membuktikan komitmennya. Ketika ia telah selesai berdoa dan ingin memulai aktivitas, secara tiba-tiba ada suara yang berbisik ke dalam hatinya. Singkat dan padat. “Minta Maaf”. Suara itu hanya berkata sekali. Kemudian gadis tersebut bertanya dalam hatinya “Minta maaf ? Minta maaf kepada siapa ? Mengapa harus minta maaf ? Tapi, bukankah dia yang telah menyakitiku, lalu mengapa aku yang harus minta maaf Tuhan ?”, namun setelah kata singkat itu, tidak ada suara yang menjawab semua pertanyaannya dan suasana kembali hening.

Ia tak akan menyangka jawaban Tuhan akan berkata seperti itu. Pada awalya, terlalu sulit baginya untuk melakukannya  namun tak lama berselang, kemudian ia berfikir untuk mereview kembali apa yang Tuhan ingin ia lakukan. Selama beberapa hari, ia meminta jawaban kepada Tuhan, lalu ketika Tuhan sudah menjawab untuk “Minta Maaf”, mengapa kemudian aku mengeraskan hati ?.” Di akhir kisahnya, bersyukur ia tidak menjadi gadis yang mengeraskan hati, karena ia berfikir telah berhari-hari ia ingin meminta jawaban dan ketika ia telah menerimanya, berarti ia harus melakukannya. Hal terberat baginya adalah ketika ia harus menghubungi orang yang telah membuat hatinya begitu tersakiti. Ia harus membuang dan menginjak-injak egonya, namun ketika telah selesai berbicara dan semuanya selesai, ada sebuah kelegaan yang begitu dalam ia rasakan. Walau sebelum dan setelah menghubungi orang tersebut, ia menangis namun kali ini, tangisan ini adalah sebuah tangisan kelegaan dan kemerdekaan. Ada rasa yang lebih indah daripada hanya sekedar kata-kata.

Kebanyakan dari kita selalu berfikir bahwa apa yang kita pikirkan akan selalu sesuai dengan yang Tuhan pikirkan, dan ternyata ini adalah sebuah kesalahan. Ada kalanya yang Tuhan pikirkan akan jauh lebih baik untuk kita lakukan dibandingkan dengan hasil pemikiran kita. Ada kalanya, yang Tuhan inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Firman Tuhan  hari ini mengajarkan kepada kita, bahwa seturut dengan pikiran dan kehendak Tuhan jauh lebih baik daripada harus mengeraskan hati pada pemikiran kita. Jika kita telah memilih untuk bertanya kepada Tuhan, maka jalankan saja apa yang Tuhan ingin kita lakukan, seperti Yosua dan gadis muda dalam cerita di atas, yang pada akhirnya memperoleh kemenangan di dalam Tuhan, ketika ia memilih untuk seturut dengan apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan. Karena jalan Tuhan adalah jalan kehidupan yang sebenarnya dimana akan ada sukacita dan nikmat yang berlimpah limpah (Mazmur 16 :11).

PERMATA, selamat menjadi pelaku Firman dalam kehidupan.

Post Terkait