Renungan Harian, 21 Februari 2019
Yohanes 15:1-8

Pernahkah kita mendengar perumpamaan yang selalu diucapkan oleh muda/i yang sedang di mabuk cinta. “Tanpa-mu, aku tidak dapat berbuat apa-apa”, “hidupku hampa tanpa mu”, “kamu sangat berarti di dalam hidup ku”, dan masih banyak lagi perumpaan lainnya yang sering diucapkan untuk menyakinkan pasangannya bahwa dia sangat berarti, walaupun terkadang hanya rayuan belaka.

Beranjak dari ungkapan tersebut, pernakah kita merasa bahwa Tuhan itu sangat berarti dalam kehidupan kita? Pernahkah kita menyadari bahwa tanpa Tuhan, kehidupan kita tidak punya arah? Atau pernah-kah kita berpikir hidup bersama Tuhan atau tidak, tidak akan berpengaruh apapun dalam hidup kita ?

Nats kita kali ini mengingatkan kita bahwa “Yesus adalah pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya lebih banyak berbuah” (ayat1 & 2), dimana ranting yang dimaksud adalah manusia. Jelas sekali dikatakan Yesus, bahwa manusia yang tidak berbuah akan dipotong.

“Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (ayat 3). Hal ini disampaikan Tuhan Yesus untuk mengingatkan manusia atas ajaran-ajaran yang disampaikanNya. Dia telah “membersihkan” kita, dan kita harus tetap maju dalam pertumbuhan rohani, dan kemajuan itu hanya ada dalam persekutuan yang erat dengan Dia, seperti yang dikatakan dalam ayat 4,5,6,7.

  1. Kita tidak akan berbuah kalau kita tidak tinggal di dalam Yesus (ayat 4)
  2. Kita tidak dapat berbuat apa-apa kalau kita tidak bersama dengan Yesus (ayat 5)
  3. Jika kita tidak tinggal maka maut siap menanti (ayat 6)
  4. Ditutup dengan janji yang manis dari Tuhan Yesus bahwa jika kita hidup bersama Yesus, apa saja yang kita kehendaki, kita akan terima.

Sebuah penegasaan dari Tuhan Yesus, bahwa manusia yang tidak berbuah dan tidak menghasilkan apa-apa akan ditebang. Ada hal yang perlu dicermati dalam ayat tersebut, sebuah penegasan dari Tuhan Yesus bahwa ranting yang tidak berbuah, dipotong Nya. Seringsekali, kita selalu mengaku bahwa kita pengikut Yesus, anak-anak Tuhan, namun kita lupa, dalam proses pengakuan itu, kehidupan kita tidak mencerminkan bahwa kita adalah bagian dari Tuhan. Kita sibuk pelayanan, kita sibuk bekerja namun kita lupa bahwa diri kita, kehidupan kita berada jauh dari Tuhan.

Nats ini mengingatkan kepada kita, jika kita mau hidup dan tinggal bersama Yesus, maka kita harus berbuah. Tinggal berarti menetap. Pemahaman inilah yang dipakai Kristus untuk menekankan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya harus tetap tinggal menetap sepenuhnya di dalam Kristus. Dalam keadaan inilah, setiap orang percaya mengalami pekerjaan Kristus dan dipersiapkan untuk berbuah. Tanpa tinggal menetap di dalam Kristus maka orang percaya tidak akan pernah menghasilkan buah.

Tujuan hidup kita adalah berbuah! Suatu hal yang mustahil bila seseorang yang mengaku percaya namun tidak mengetahui tujuan hidup imannya. Kristus sendiri berkata, “Bapa-Ku dipermuliakan jika kamu berbuah banyak …” (8). Artinya, sesuatu yang mustahil bila seseorang menganggap diri hidup memuliakan Allah Bapa tanpa terlebih dahulu mengenal dan tinggal di dalam Kristus. Salah satu syair lagu mengatakan demikian: “Tinggallah dalam Yesus jadilah murid-Nya, belajarlah Firman Tuhan taat kepada-Nya; tinggallah dalam Yesus muliakan nama-Nya, hidup berlimpah kurnia hanya di dalam-Nya”.

“Kepercayaan kepada Kristus menghasilkan ketaatan pada firman-Nya dan ketaatan kepada firman-Nya menghasilkan buah”.

Sumber : Rima Juliani Br. Ginting, PERMATA GBKP Rungun Diski, Klasis Medan Kampung Lalang

Post Terkait