Renungan Harian, 05 Desember 2018

Daniel 1

Pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Nebukadnezar adalah raja yang memerintah Yerusalem (ay1) lalu ia memberitahu kepada Aspenas, kepala istana untuk membawa anak anak muda keturunan Israel, kaum bangsawan dan keturunan Raja, yang tidak ada suatu cela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak, mempunyai pengertian tentang ilmu (ay2-4) untuk didik selama tiga tahun dan setelahnya mereka akan bekerja kepada Raja (ay5).

Diantara yang dipilih Aspenas, ada empat orang Yehuda, yakni Daniel (Beltsazar), Hananya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) (ay7). Ini adalah nama lain yang diberikan Nebukadnezar kepada mereka. Karena Raja Nebukanezar adalah raja dengan penyembahan kepada dewa, Daniel yang diberi Raja nama Beltsazar berketetapan di dalam hatinya untuk tidak menajiskan dirinya terhadap makanan raja (ay8). Namun pegawai istana Raja, Aspenas takut sekali keempat anak muda Tuhan ini kelihatan tidak sehat, karena tidak makan makanan yang disediakan Raja dan hanya makan sayur mayur dan anggur yang baik (ay16). Karena itu, Daniel mengatakan untuk mengadakan pencobaan selama sepuluh hari dan ternyata, kelompok Daniel dan keempat anak muda Allah ini tetap segar bahkan Allah memberikan kepada mereka pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, sedangkan kepada Daniel, Allah juga memberikan pengertian tentang berbagai bagai penglihatan dan mimpi (ay17). Dasyatnya lagi, ketika telah tiba waktunya selama tiga tahun mereka telah belajar dan menghadap Raja, Raja mendapati keempat anak muda Allah yaitu Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego memiliki kepintaran sepuluh kali (ay20) lebih cerdas daripada semua orang yang berilmu dan ahli jampi di seluruh Kerajaannya.

Dari pasal ini kita dapat belajar beberapa hal :

  • Ketika kita berada di pihak Allah, TIDAK akan ada yang mampu melawan kita. BERPEGANG TEGUH kepada Tuhan, bearti kita sepenuhnya percaya kepada IMAN yang tanpa MELIHAT. Ibrani 11 : 1 mengatakan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Artinya, Kuasa Tuhan itu tidak tampak namun berbuah dalam hasil. Seperti Daniel Sadrakh Mesakh dan Abednego. Mereka setia kepada Allah dan Allah memberikan kepandaian kepada mereka sepuluh kali lipat dari semua ahli.
  • Berbicara tentang Surga berarti BUKAN berbicara tentang makanan dan sesuatu yang kelihatan. Roma 14 : 17 mengatakan sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal KEBENARAN, DAMAI SEJAHTERA dan SUKACITA oleh ROH KUDUS. Sama seperti Daniel yang TIDAK menajiskan dirinya dengan makanan raja yang telah dipersembahkan kepada dewa dewanya, Daniel tumbuh dengan baik walau hanya makan sayur sayuran dan anggur yang baik yang BUKAN hasil pemujaan dewa dewa. Lebih lagi lihatlah hasilnya, keempat anak muda Allah ini tetap sehat bahkan kepintaraannya lebih dari orang yang makan makanan raja. Secara logika kelihatan mustahil, tetapi Matius 5 : 37 mengatakan, TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH.

Post Terkait