Renungan Harian, 22 Mei 2019
Matius 4 : 4 

“Tetapi Yesus menjawab : Ada tertulis : Manusia hidup BUKAN dari roti saja, tetapi dari setiap FIRMAN yang keluar dari mulut ALLAH."

Ayat ini sangat jelas membuktikan bahwa yang dibutuhkan tubuh manusia bukanlah hanya roti (makanan) tetapi juga yang terpenting, yang sangat dibutuhkan tubuh manusia adalah FIRMAN TUHAN yang keluar dari mulut ALLAH. Kita memang perlu makan, tapi hidup anak-anak Tuhan bukan berfokus pada makanan, yang berujung hanya kepada kepuasaan materi saja hingga mampu menghalalkan segala cara untuk itu, tetapi hidup anak-anak Tuhan harus berfokus kepada FIRMAN ALLAH. Apakah kita pernah merasakan, bila kita bertekun membahas dan bergumul tentang Firman Allah, bahkan satu hari pun tidak terasa lapar ? Inilah buktinya, bahwa Firman Tuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan tubuh manusia. Dalam Alkitab, ada banyak tokoh yang luar biasa yang tidak bersandar pada makanan tetapi lebih kepda kedekatannya kepada Tuhan. Lihat saja bagaimana kisah Daniel, yang hanya makan sayur-sayuran saja, berbeda dengan para temannya yang makan sayur dan daging. Tetapi hikmat dari hubungannya yang sangat dekat dengan Tuhan menjadikan Daniel menjadi seorang anak muda yang jauh lebih pintar melebihi para teman-temannya.

Dalam Yohanes 6 : 63 dikatakan bahwa Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Bila kita berbicara tentang duniawi, maka kita akan berbicara tentang keinginan-keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2 : 16). Dalam Galatia 5 : 19 – 21 sangat jelas sekali dirincikan tentang keinginan-keinginan daging yang akan membawa kepada kebinasaan atau kematian kekal dan dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa semuanya itu tidak berguna. Firman Tuhan dalam Kolose 3 : 5 mengatakan “Karena itu matikanlah segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan PENYEMBAHAN BERHALA”.

Salah satu keinginan daging yang kerap kali ada di antara manusia adalah keinginan menjadi kaya secara materi. Banyak sekali orang pada zaman sekarang sangat memberhalakan uang bahkan sampai me-Tuhankan uang. Melakukan segala galanya hanya untuk mengejar dan mengumpulkan uang dan harta duniawi, bahkan Firman Tuhan dalam Lukas 12 : 34 mengatakan “Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Hal ini memicu semakin banyaknya kekhawatiran manusia terhadap kecukupan materi tanpa memperhatikan kembali kesehatan rohani kita. Kesibukan yang kerap sekali menjadikan setiap anak Tuhan tidak punya waktu teduh bersama Tuhan hingga tindakan korupsi yang sangat marak terjadi di Indonesia. Semuanya bermula dari berfokus kepada uang.

Amsal 23 : 4 mengatakan “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkanlah niatmu itu”. Kitab Amsal yang penuh dengan nasehat ini menjelaskan bahwa ketika keinginanmu berfokus menjadi kaya dan bukan kepada Tuhan, maka tinggalkanlah niatmu itu. Dalam 1 Timotius 6 : 9 – 10 menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin kaya, jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam nafsu yang hampa dan mencelakakan dan parahnya, akan MENENGGELAMKAN MANUSIA ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Tenggelam di sini mengindikasikan kematian. Artinya setiap orang yang mencintai kekayaan secara materi akan mati dalam kebinasaan. Selanjutnya dikatakan bahwa AKAR dari segala KEJAHATAN adalah cinta UANG.

Lalu, akan muncul sebuah pertanyaan begini “Kalau tidak ada uang, ya tidak makan, memangnya bisa membeli sesuatu bila tidak dengan uang ?”Lalu apakah anak Tuhan tidak boleh kaya ? Tentu saja boleh. Allah kita adalah Allah yang kaya yang memberikan kelimpahan kepada setiap anakNya. Allah kita adalah Allah yang kaya, yang menciptakan langit dan bumi beserta semua isinya sehingga kita bisa menikmati keindahan setiap ciptaanNya.

Lalu bagaimana caranya anak Tuhan untuk kaya ?

Matius 6 : 33 mengatakan “ Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Bila kita sadari, Tuhan telah mempercayakan harta yang berkelimpahan di dalam diri kita. Panca indera adalah kekayaan yang Tuhan berikan kepada kita.

Matius 6 : 20 mengatakan “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Harta di sorga yang dimaksud adalah Karunia/Talenta. Karunia adalah sesuatu yang telah Tuhan letakkan dalam diri kita, yang berguna untuk kita melayani. Dengan mempergunakan karunia untuk melayani, maka selain kita telah memuliakan Tuhan, dengan sendirinya uang akan datang kepada kita. Misalnya orang yang mempunyai karunia menyembuhkan, bila ia pergunakan, maka orang sembuh oleh karena dia, pasti akan memberikan berkatnya buatnya. Karena itu, kejarlah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, bukan mengejar uang. Pergunakanlah uang sebagai alat untuk melayani bukan sebagai tuhan.

Matius 13 : 22 menjelaskan bahwa tipu daya kekayaan akan menghimpit firman Tuhan itu sehingga tidak berbuah. Fokus kepada uang akan menjauhkan kita kepada Tuhan.

Filipi 4 : 9 dengan jelas mengatakan jika kita mampu menjadi pelaku firman, maka Allah damai sejahtera sendirilah yang akan menyertai kita.

Dalam Matius 6 : 25 – 34 menjelaskan bahwa tidak mungkin Tuhan tidak memelihara dan tidak menjaga kita, karena itu kita tidak perlu kuatir.

Post Terkait