Renungan Harian, 25 Mei 2019
Matius 5 : 13 – 16

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5 : 16)

Kita adalah garam dan terang dunia, dan dunia harus dapat merasakan itu. Sebagai anak Tuhan, kita harus membuktikan bahwa kita adalah garam yang dapat memberi rasa kepada dunia. Memberi rasa yang dimaksud adalah bahwa dimana kita berada, setiap orang dapat merasakan Tuhan Yesus yang ada di dalam diri kita. Merasakan kasihNya, sukacitaNya, damai sejahteraNya dan segala hal tentang Tuhan, tujuannya adalah setiap orang yang mengena kita dapat memuliakan Tuhan yang di Sorga.

Kita adalah terang dunia. Tuhan Yesus adalah terang yang sesugguhnya dan abadi. Jadi menjadi terang adalah bahwa ketika orang melihat pribadi kita, maka setiap orang mengenal terang Tuhan dalam diri kita. Abadi berarti kekal dan tidak lekang dimakan waktu, maka terang yang abadi mampu dilihat orang dari dalam diri kita, sehingga dari kita, setiap orang mengenal terang yang berasal dari Bapa kita yang di sorga.

Menjadi garam dan terang berarti dalam segala waktu dan keadaan. Bukan hanya ketika keadaan sukacita, bukan hanya ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik, namun di dalam menghadapi pencobaan dunia, kita harus mampu menjadi garam dan terang dunia, karena untuk itulah kita diciptakan Tuhan.

Tetap kuat dalam menjadi garam dan terang dapat kita lakukan dengan terus konsiten belajar tentang Firman Tuhan dalam kehidupan, memperkatakan Firman dan menjadi pelaku Firman Tuhan. Melebur bersama Tuhan dalam kata berserah dengan berjalan bersama iman yang tetap teguh di dalam Tuhan, sehingga kita tidak menjadi anak-anak yang terpuruk dalam kelemahan, tetapi justru dengan menyadari diri kita lemah, kita semakin mendekat kepada Tuhan dan kekuatan dari Tuhanlah yang akan menjadikan kita tetap kuat.

PERMATA, garam dan terang bagi dunia, itulah identitas kita.

Post Terkait