Garam dan Terang Dunia

“Sebuah kesaksian dari seorang PERMATA yang sungguh memotivasi dan menginspirasi”

Nama saya Sonya Priscilia Br. Tarigan, biasa disapa Sonya. Saya adalah PERMATA GBKP Runggun Sibolangit, Klasis Sibolangit.  Selama setahun saya tinggal dan bekerja sebagai relawan di Jerman melalui Program United Evanglical Mission (UEM), yaitu South North Volunteer Program 2018/2019.

Awalnya saya tidak yakin bahwa saya dinyatakan lulus oleh UEM dan menjadi salah satu kandidiat relawan dari Indonesia mewakili GBKP. Setelah tiba di Jerman, barulah saya sadari sungguh alangkah baiknya Allah kita. Dan kesempatan ini membuat saya benar-benar keluar dari “zona nyaman”.

Dan ternyata untuk tinggal dan beradaptasi di “rumah orang lain” tidaklah mudah. Saya harus beradaptasi dengan bahasa, cuaca, makanan, budaya, dan juga kehidupan sosial penduduk Jerman. Meskipun tinggal di bumi yang sama, bagi saya tinggal dan hidup di Jerman betul-betul sangat berbeda dengan kehidupan kita di Indonesia, khususnya di Medan. Orang-orang di Jerman sangat disiplin, tepat waktu, mandiri, dan kritis. Awalnya saya sangat keteteran untuk mengikuti kehidupan mereka. Saya sangat kesusahan. Namun dalam hati saya sudah tekadkan untuk tidak menyerah begitu saja. Ya, jika kita tinggal dirumah orang lain, sebagai tamu kita harus mengikuti peraturan yang ada dirumah itu. Jadi saya tidak bisa membawa budaya saya dari Medan, bisa-bisa saya dipulangkan nanti kerumah saya. (Hahaha)

Dalam tulisan ini saya akan membagikan pengalaman saya selama setahun tinggal dan hidup di Jerman, semoga bermanfaat buat teman-teman Permata GBKP.

Keramahtamahan

April 2018 saya tiba di Jerman disambut oleh udara dingin 7 derajat; suhu udara yang tidak pernah saya dapatkan di Medan. Dengan penuh optimisme saya berjalan keluar dari pesawat karena mentor saya Bapak Frank Buhlmann beserta istri – mereka adalah orang tua angkat saya – sudah menunggu kedatangan saya. Dari kejauhan saya mengenali betul dua orang yang sudah saya kenal 8 tahun yang lalu. Mereka siap meyambut kedatangan saya dengan penuh atribut bendera merah putih dan juga beka buluh, kain khas orang Karo.

Saya sangat bahagia! Akhirnya saya bisa bertemu dengan mereka kembali setelah menunggu cukup lama. Tanpa pikir panjang saya berlari ke arah mereka dan memeluk mereka. Meskipun saya masih lelah karena jetlag, senyuman hangat mereka membuat rasa lelah saya hilang. Mereka sudah menyiapkan jaket winter untuk saya karena mereka tahu orang Sumatra seperti saya pasti kedinginan dengan suhu udara seperti sekarang.

Pasutri Buhlmann sudah merencanakan semua program yang akan saya lakukan selama setahun, termasuk liburan saya. Mereka juga sudah mengatur liburan mentor pembantu ketika mereka berdua nantinya pergi berlibur. Jauh sebelum saya tiba di Jerman, mereka sudah mempersiapkan semuanya untuk saya, termasuk pakaian yang saya butuhkan ketika cuaca dingin datang. Oh sungguh, ketika saya menulis artikel ini, saya merindukan mereka.

Ya, saya sangat merindukan mereka! Keramahtamahan yang mereka berikan kepada saya membuat saya tidak bisa melupakan mereka. Setiap detik saya sangat merindukan mereka.

Selama setahun di Jerman, saya pernah sakit, putus asa, dan ingin menyerah. Sangat merindukan “rumah di Medan”. Kehangatan dan dukungan yang Bapak dan Ibu Buhlmann berikan membuat saya tidak menyerah. Salah satu yang saya pelajari dari mereka: memberikan sebuah pelukan kepada orang yang sedang rapuh sangat membantu orang tersebut daripada seribu kata motivasi.

Keramahtamahan ini juga saya dapatkan dari orang-orang yang saya kenal di lingkungan saya bekerja atau lingkungan Gereja tempat saya tinggal. Mereka selalu menyambut saya dengan senyuman mereka, menanyakan kabar saya, dan kendala yang saya hadapi selama tinggal di Jerman. Bahkan beberapa dari mereka membantu saya secara moril untuk mewujudnyatakan mimpi saya; sesuatu yang sama sekali tidak pernah saya minta.

Ketika saya ulang tahun, mereka membuat kue ulang tahun untuk saya. Tak lupa mereka memberikan bunga dengan tulisan-tulisan yang memotivasi saya; mereka mengirimkan surat dan kartu ucapan untuk menanyakan kabar saya, atau mengundang saya untuk sekadar minum secangkir teh dirumah mereka. Terkadang saya merasa kehadiran saya sangat spesial bagi mereka. Meskipun saya merasa saya bukan apa-apa dan siapa-siapa dibandingkan mereka.

Keramahtamahan ini benar-benar membuat saya nyaman untuk tinggal di rumah mereka. Nyaman untuk berlama-lama dengan mereka. Nyaman untuk berdiskusi dengan mereka. Bagaimana dengan kita PERMATA GBKP? Sudahkah kita membuat demikian untuk tamu yang sedang menumpang untuk tinggal dirumah kita?

Visi dan Misi

Mengapa saya ingin mengikuti program ini? Karena saya ingin mengetahui dan belajar dari pemuda di Jerman bagaimana mereka berkembang dan tumbuh bersama Tuhan. Namun sejak minggu pertama saya menginjakkan kaki di Jerman hingga minggu terakhir, sangatlah jarang saya temukan pemuda di Gereja. Saya hanya menemukan opa dan oma yang juga tidak memenuhi ruangan gereja.

Gedung gereja yang megah dan besar di Jerman terasa dingin karena hanya dihadiri oleh lebih kurang 10 – 30 orang saja; dan rata-rata mereka adalah lansia atau opa dan oma. Tiga bulan pertama, saya benar-benar stress karena kenyataan yang saya hadapi tidak sesuai seperti yang saya harapkan. Bahkan saya tidak memilik teman pemuda karena mereka semua menarik diri mereka dan sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Saya bahkan sempat berhari-hari tidak berbicara sepatah katapun karena tidak ada teman untuk bicara.

Saya sempat marah kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, mengapa Engkau mengirim saya ke tempat ini, bukankah Tuhan sudah tahu apa tujuan saya?” Saya benar-benar kecewa, juga dengan diri saya sendiri. Namun perlahan Tuhan membukakan jalan-Nya. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik dalam International Gottesdienst (Ibadah Internasional). Disana saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara. Saya memberikan kesaksian saya di beberapa Gereja di wilayah tempat saya bekerja. Hampir setiap minggunya, ketika memasuki ruangan Gereja, hanya saya sendiri – seorang anak muda – yang ada di Gereja itu.

Akhirnya saya menyadari dalam doa dan renungan saya, bahwa Tuhan mengirimkan saya bukan untuk belajar dari pemuda yang ada di Jerman melainkan agar orang-orang Jerman bisa belajar dari seorang pemuda seperti saya yang berasal dari Sumatra. Jujur, awalnya ketika saya disuruh untuk memberikan kesaksian, saya benar-benar tidak berani. Belum lagi Bahasa Jerman saya masih berantakan. Namun mereka menaruh kepercayaan kepada saya; itu membuat saya benar-benar termotivasi. Benar kata orang, kepercayaan itu ibarat mata uang; sebuah kepercayaan sangatlah berharga.

 Ingin Cepat Dilupakan

Banyak teman berkata kepada saya, “Enak ya… Sonya bisa tinggal di Jerman.” Untuk tinggal di rumah orang itu tidak mudah. Perbedaan budaya kita juga sangat mempengaruhi kehidupan kita, apalagi kita sebagai pendatang yang minoritas disana. Saya sendiri pernah mengalami kejadian rasis di Jerman; pengalaman ini betul-betul membuat saya sedih.

Kala itu saya dan teman saya yang berasal dari Filipina ke sebuah toko di kota tempat saya tinggal. Toko mungil dan enak dipandang dari luar itu, menjual beberapa pakaian untuk persiapan musim gugur dan musim dingin. Saya masuk ke dalam, hendak melihat-lihat, mana tau ada yang bisa dibeli. Kebetulan saya suka satu mantel dari toko itu dan saya ingin menunjukkannya kepada teman saya.

Beberapa detik sebelum saya menyentuh pakaian itu, ibu penjaga langsung berkata, “Ein Schuldigung, Sie durfen es nicht anpassen; Maaf, Anda tidak boleh menyentuh itu.” Sontak dengan polosnya saya bertanya, “Mengapa?”,“Warna mantel itu terang, nanti takut kotor.”, jelas ibu itu. Kemudian saya mundur perlahan dari mantel itu dan teman saya sangat marah. Dengan muka penuh emosi ia berkata, “Sonya, was machst du hier? Kommst, gehen wir! Sonya, kamu ngapain disini? Mari kita pulang.

Saat itu saya hanya sedih. Saya tidak mengerti mengapa saya tidak diperbolehkan untuk menyentuh pakaian itu. Tangan saya bersih, saya tidak berkeringat; bagaimana saya bisa berkeringat kalau cuaca pada saat itu sangat dingin. Saya terdiam dalam perjalanan pulang. Tidak berbicara sekatapun.

Teman saya menjelaskan bahwa sejak saya memasuki toko itu, ibu penjaga toko sudah memandangi saya dari ujung kaki ke ujung kepala. Semua orang Jerman yang masuk ke toko dia layani dengan baik, sedangkan kita orang Asia dia anggap orang miskin atau migran yang tidak punya uang dan tidak sanggup untuk membeli barangnya itu.

Ada beberapa toko di kota ini sangat anti dengan para imigran atau pendatang dari negara lain. Warna kulit kita dianggap jorok dan akan membuat barang mereka rusak. Mereka malas untuk melayani kita.

Saya benar-benar terkejut. Saya pikir hal itu tidak ada lagi di Jerman karena semua orang yang saya kenal dan yang saya temui di Jerman sangat baik dan ramah kepada saya. Saya benar-benar sedih dan ingin melupakan itu sebagai pelajaran bahwa saya tidak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain karena itu sangat menyakiti hati saya.

Pengalaman yang saya alami belum seburuk dari pengalaman teman-teman saya yang berasal dari Afrika. Mereka bahkan dianggap teroris! Banyak orang melihat mereka dengan muka yang tidak ramah karena warna kulit mereka yang hitam pekat. Mereka tidak diperbolehkan memasuki beberapa club atau pertokoan. Bahkan di beberapa tempat jelas tertulis di depan pintu: Imigran atau kulit hitam dilarang masuk!

Kami sungguh ingin melupakan pengalaman yang dialami di Jerman. Kami tidak akan melakukan hal tersebut kepada orang-orang di sekitar kami karena pengalaman ini sangat menyakiti hati kami.

Bertarung Melawan Cuaca

Sebelum saya tiba di Jerman, saya pikir udara dingin Eropa itu mudah untuk dihadapi. Tinggal memakai pakaian winter dan semua urusan selesai. Titik! Namun tebakan saya salah. Tidak mudah untuk menghadapi musim dingin meskipun saya ingin sekali melihat salju.

Setiap hari saya harus berkali-kali mengganti pakaian. Saya harus memakai pakaian berlapis-lapis agar tubuh tahan dengan dinginnya udara di musim dingin. Syal, topi, dan sarung tangan tidak boleh ketinggalan. Buat saya yang baru pertama kali mengalami musim dingin, saya tidak memiliki pengalaman sama sekali. Terkadang saat pergi kerja, saya lupa membawa topi, sarung tangan, atau syal. Saya harus terus menerjang udara dingin Jerman dan berjalan kaki cepat-cepat karena tidak ingin terlambat tiba di tempat kerja.

Beberapa kali saya kena demam dan masuk angin, atau kulit saya bersisik dan menjadi luka. Karena kulit saya tidak lembab lagi, saya harus berulang-ulang setiap harinya memakai handbody, pelembab bibir, atau pelembab muka. Jika tidak, kulit saya bisa benar-benar rusak.

Itu semua belum seberapa. Di musim dingin saya wajib memakai sepatu winter yang berat. Jika dihitung secara kasar, berat pakaian yang saya pakai kurang lebih tiga kilogram. Terbayangkah betapa ‘nikmatnya’ membawa beban itu kemana-mana?

Setiap harinya saya berjalan kaki kiloan meter. Musim dingin benar-benar menjadi pertarungan yang hebat buat saya. Seringkali saya berkhayal, merindukan makanan Indonesia yang enak dimakan ketika cuaca dingin. Namun apa daya, saya harus tahan selera. Puji syukur saya punya mie instan yang saya usahakan untuk dimakan sebulan sekali saja. Selain untuk kesehatan, harganya sangat mahal. Hehehehe….

Yang Tak Terlupakan

Mengikuti program relawan ini adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan Yesus kepada saya. Selama satu tahun di Jerman saya menemukan keluarga baru serta beragam teman dan sahabat; mereka bukan hanya dari Jerman tetapi juga dari Afrika, Filipina, Amerika, Australia, dan Inggris. Saya selalu memiliki cerita tersendiri ketika bertemu dengan mereka. Semuanya unik dan berbeda-beda.

Kisah kami bagaikan sebuah ilmu pengetahuan bagi saya. Ketika saya mengobrol dengan seorang guru, kami berbicara bagaimana perbandingan pendidikan di Indonesia dan di Jerman. Ketika mengobrol dengan dokter, kami berdiskusi bagaimana perkembangan ilmu kesehatan di berbagai belahan dunia. Ketika mengobrol dengan pendeta, perbincangan kami seputar bagaimana mereka menjelaskan situasi kondisi yang sangat kritis di Jerman. Misalnya, ada beberapa Gereja dijual dan dijadikan restoran atau kafe tempat nongkrong. Kurangnya minat pemuda untuk menjadi pendeta membuat mereka takut ketika mereka meninggal, tidak akan ada lagi yang meliturgikan acara kematian mereka.

Demikian juga ketika saya mengobrol dengan tukang kayu; bagaimana Jerman yang tidak memiliki hutan seluas Indonesia berusaha untuk tidak mengimpor kayu dari luar negeri, melainkan menanam pohon sendiri dengan sistem tebang tanam. Atau ketika saya berbicara dengan para lansia, bagaimana mereka berusaha hidup sehat seraya menceritakan kisah masa muda mereka ketika terjadi perang dunia di Eropa atau pada masa Hitler yang mana adalah masa kelam bagi Jerman.

Tidaklah mudah bagi saya untuk mengikuti setiap cerita mereka dan merespon cerita mereka. Ditambah lagi, kemampuan Bahasa Jerman saya yang minim. Kesaksian saya begini: Tuhan benar-benar memberkati saya dan memberikan saya hikmat dan kebijaksanaan untuk dapat mengobrol dengan mereka. Saya sendiri kadang berpikir, kok saya bisa ya berkata demikian. Namun saya yakin, bukan saya lagi yang berkata-kata tetapi Tuhan melalui saya.

Saya sama sekali tidak memiliki pengalaman sebagai seorang dokter, guru, pendeta, lansia, tukang kayu, dan sebagainya. Namun setiap kali kami mengobrol bersama, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan mereka tidak ingin saya segera pulang. Pengalaman ini benar-benar pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya tidak akan bisa melupakannya.

Belum lagi ketika mengikuti seminar dan berteman dengan relawan yang berasal dari negara-negara lain. Ketika kami diberikan satu pertanyaan yang sederhana, jawaban dan cara pandang kami semua berbeda. Budaya, Negara, Bahasa, dan lingkungan benar-benar mempengaruhi pandangan semua orang dan juga cara berpikir kami. Sebagai seorang pendengar, saya sering berkata dalam hati, “Oh iya ya… benar apa yang dia katakan. Betul juga yang dia sampaikan. Wah, ga sampe ke situ pemikiranku.

Menikmati setiap perubahan musim di Jerman adalah sebuah kebahagiaan. Karena Indonesia tidak punya empat musim, untuk pertama kalinya saya berkesempatan melewati semua musim. Empat musim!!! Ini adalah pengalaman yang tidak bisa kulupakan dan yang selalu membuat mataku terbuka lebar. Saya sering berkata kepada teman-teman di sana, “Saya ini seperti seorang anak berusia 2 tahun yang memiliki banyak sekali pertanyaan karena melihat banyak hal baru di Jerman. Pertanyaan yang sering saya ajukan adalah, Was ist das? Wofur ist das? Kann man es essen? Apa itu? Buat apa? Bisa dimakan tidak? Pertanyaan aneh yang sering membuat mereka tersenyum dan tertawa karena tingkahku.

Selama di Jerman saya tidak bisa makan tanpa cabe. Saya suka makan pedas. Tetapi lain halnya dengan orang Jerman; mereka tidak tahan pedas. Jadi pengalaman yang tidak akan bisa saya lupakan adalah ketika saya membuat orang-orang Jerman kepedasan. Mereka membutuhkan 2 liter susu supaya rasa pedasnya hilang; padahal level pedas yang saya berikan masih dibawah rata-rata. Pengalamaan ini benar-benar membuat saya mati ketawa. Jika ditanya ‘Apa yang kamu ingat dari Sonya?’ dengan cepat mereka akan menjawab, “Cabenya yang begitu pedas hingga membuat mulutku terbakar!”Hahaha…

Ini adalah beberapa pengalaman bisa saya bagikan kepada teman-teman PERMATA GBKP. Saya masih punya banyak pengalaman yang dengan senang hati bisa saya bagikan kepada teman-teman. Dan jujur, melalui program relawan ini, saya benar-benar banyak belajar arti kehidupan. Saya merasakan iman saya juga semakin bertumbuh sejak saya tinggal di Jerman.

Sebelumnya saya sering bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa saya dilahirkan? Akan jadi apa saya? Apa tujuan hidup saya? dan berbagai pertanyaan lainnya. Selama di Jerman saya benar-benar menemukan visi dan misi hidup saya. Saya menemukan cita-cita saya yang sangat besar, yang hingga hari ini saya berusaha untuk menggapainya. Saya menemukan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya, bahkan saya menemukan Tuhan kita!

Di negara tempat Martin Luther dilahirkan, banyak cerita suka dan duka yang meningkatkan keimanan saya kepada Tuhan. Tuhan mengirimkan saya untuk menjadi garam dan terang bagi anak-anak-Nya yang berada di Jerman. Banyak anak Tuhan di Jerman tidak tahu jalan pulang seperti anak yang hilang. Melalui program ini Tuhan menyiapkan dan mengirimkan kami relawan-Nya untuk kemuliaan nama-Nya. Bukan hanya untuk memberitakan Injil-Nya, Tuhan mengirim kami juga untuk menjadi bagian dari keluarga orang Jerman.

Seperti yang pernah saya katakan dalam kesaksian saya sebelumnya, “Jika dulu para misonaris datang dari Eropa ke Indonesia, ke Sumatra Utara, ke Buluh Awar (tempat lahirnya GBKP) untuk memberitakan Firman Tuhan, sekarang arah angin berbalik. Sudah waktunya kami dari Asia datang ke Eropa sebagai misionaris dan mengingatkan kembali akan besar-Nya kasih Tuhan kepada kita semua. Jika beratus tahun yang lalu Gereja di Eropa berdiri megah – besar karena banyaknya jemaat yang datang ke Gereja – sekarang Gereja di Eropa dingin. Tidak ada kehidupan. Bahkan raut muka Gereja di sana sangat sedih…merindukan kehadiran jemaatnya: jantung kehidupan sebuah Gereja. Biarlah kami para relawan yang masih muda ini menjadi garam dan terang di Jerman. Semoga sepulang kami dari Jerman, dua tiga orang disini akan menjadi garam dan terang dunia untuk melanjutkan kabar sukacita ini.”

Ketika saya menyampaikan kalimat-kalimat di atas dalam kesaksian saya dalam ibadah misionaris disalah satu Gereja pada saat itu, saya bergetar… saya memegang kuat mimbar Gereja agar diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Dan benar, Tuhan benar-benar bekerja! Usai ibadah, banyak orang menemui saya dan mengatakan kekaguman mereka atas kalimat saya. Mereka berkata bahwa mereka akhirnya sadar dan terbukakan pada kenyataan yang saya sampaikan. Hari itu, saya benar-benar berkata kepada Tuhan:“Tuhan, tolonglah aku anak-Mu yang muda ini, yang tidak tahu apa-apa ini.”

Jadi marilah teman-teman PERMATA GBKP yang saya kasihi,… mari kita menjadi garam dan terang dunia! Berkaryalah dalam masa muda kita. Masa muda hanya kita lewati sekali. Tidak akan bisa kita ulangi lagi. Ketika waktu kita selama ini habis untuk stalking sosmed teman kita, kini marilah kita ubah waktu kita untuk quality time dengan Bapa kita dan keluarga, membantu orang tua, mengajari adik kita belajar, melayani bersama Tuhan, memberikan inovasi-inovasi baru untuk perkembangan keluarga, Gereja dan negara kita.

Kiranya pengalaman saya yang singkat ini dapat memotivasi PERMATA GBKP untuk terus berkarya. Mari kita saling berpegangan tangan untuk melawan kejahatan dunia ini supaya kita sungguh-sungguh menjadi PERMATA GBKP yang indah dan sangat berharga di tengah-tengah Gereja kita. Kamu dan saya adalah anak Tuhan yang sudah disiapkan untuk menjadi garam dan terang dunia. Vielen dank.

Post Terkait