Renungan Harian, 17 Juli 2019
Lukas 12 ; 37 – 48

“Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu : “Sesugguhnya ia akan mengikat pinganggnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka."

Nats kita kali ini mengajarkan kepada kita untuk berjaga-jaga agar ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya, kita didapati dalam keadaan siap. Ini adalah perumpamaan tentang hal Kerajaan Surga.

Bagian pertama dikatakan “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang..” Hamba diibaratkan adalah kita dan tuan adalah Tuhan Yesus. Dikatakan kita akan menjadi orang yang berbahagia ketika kita didapati dalam keadaan berjaga-jaga. Berjaga-jaga yang dimaksudkan dapat diartikan kita adalah anak-anak yang percaya dan menjadi pelaku Firman Tuhan dalam kehidupan.Kehidupan kita adalah kehidupan yang menghasilkan buah bagi Kristus dan setia hingga akhir, sehingga ketika pada saatnya nanti, kita didapati Tuhan tetap setia dan Tuhan katakana “Berbahagialah..”. Selanjutnya, mengenai waktu dan saatnya, tidak ada satu orang pun yang tahu., karena Tuhan selalu datang diibaratkan seorang pencuri yang ingin datang ke sebuah rumah. Pemilik rumah tidak akan pernah tahu namun selalu berjaga jaga dengan sikap yang hati-hati.

Bagian kedua adalah “Hendaklah kamu siap sedia, karena anak manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” Dalam menanti saat dan waktuNya Tuhan datang, kita harus selalu siap sedia. Siap sedia dapat diibaratkan sebagai sebuah sikap yang terus memelihara kasih dan Firman Tuhan di dalam dirinya, sehingga pada saat Tuhan datang, kita menjadi anak-anak yang baik, mendapatkan upah dan mahkota.

Bagian ketiga, Jika kita bertanggungjawab terhadap tugas kita sebagai anak Tuhan, maka Tuhan akan mempercayakan tanggungjawab yang lebih besar lagi. Dalam perumpamaan ini dikatakan “ia akan dipercayakan untuk menjadi pengawas segala miliknya (ayat 44). Ini seperti perumpamaan tentang talenta. Setiap orang telah dipercayakan berbagai karunia di dalam diri kita. Minimal satu karunia. Ketika kita bertanggungjawab untuk mempergunakan karunia yang diberikan Tuhan untuk Tuhan, maka Tuhan akan mempercayakan karunia lain juga kepada kita, tetapi jika tidak, Tuhan akan mencabut karunia yang ada pada kita dan pada saatnya nanti, kita juga akan bertanggungjawab terhadap hal ini.

Bagian keempat,  Jika kita adalah anak-anak yang bertanggungjawab terhadap tugas kita, maka bukan hanya berkat, tetapi dari kita juga akan dituntut banyak tanggungjawab. Sama seperti sebuah perkataan “Semakin banyak kita terima, maka kita juga sedang dituntut untuk member banyak. Semakin banyak kita tahu tentang Firman Tuhan, maka tanggungjawab akan semakin banyak juga dituntut. Namun hal ini bukannya menjadikan kita semakin mundur, justru sebaliknya kita harus menjadi orang yang berbahagia.

Bukankah itu berarti Tuhan sedang memperhitungkan kita untuk masuk ke dalam KerajaanNya ? bisa kita bayangkan, bila kita adalah anak-anak yang sedang dalam perhatianNya Tuhan ? Mungkin akan banyak tanggungjawab dalam pergumulan dan PR pelayanan, namun bukankah Tuhan berjanji akan selalu menolong ?

Soo, Berbahagialah..

Post Terkait