Hari yang Biasa Saja?

Renungan Harian, 25 Desember 2018

Kisah Para Rasul 3:17-26

Dalam cerita Christmas Every Day karangan William Dean Howells, dikisahkan seorang gadis kecil yang harapannya terkabul, yaitu Natal sepanjang tahun. Namun, pada hari ketiga, keceriaan Natal mulai menipis. Tak lama kemudian, semua orang sudah muak melihat permen. Kalkun menjadi langka dan dijual dengan harga selangit. Kado tak lagi diterima dengan gembira karena sudah bertumpuk di mana-mana. Orang saling membentak dengan jengkel. Tahun itu terasa panjang dan menjemukan.

Untungnya, cerita Howell hanya sebuah kisah satir. Namun, alangkah luar biasanya ketika sang tokoh utama Natal tak pernah membuat kita jemu meskipun Dia terus-menerus muncul di sepanjang Alkitab.

Setelah Yesus naik ke surga, Rasul Petrus memberitakan kepada orang banyak di Bait Allah Yerusalem bahwa Yesuslah yang dinubuatkan Musa ketika ia berkata, “Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku” (Kis. 3:22, Ul. 18:18). Janji Allah kepada Abraham, “Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati,” sesungguhnya mengacu kepada Yesus (Kis. 3:25; Kej. 22:18). Petrus menegaskan, “Semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini,” yaitu kedatangan Mesias (Kis. 3:24).

Setelah perayaan Natal selesai, kita bisa menjaga semangatnya terus hidup. Dengan melihat Kristus dalam seluruh cerita Alkitab, kita pun menyadari betapa Natal itu lebih dari sekadar hari yang biasa saja.

Post Terkait