Renungan Harian, 13 Februari 2019
“Belajar Patuh dari Abraham”

Kejadian 22:1-19

Pernahkah kita bayangkan betapa hancurnya hati seorang bapak yang harus kehilangan salah satu dari anaknya? Apalagi kehilangan anak yang lahir setelah penantian yang begitu panjang? Secara pemikiran logika manusia, pasti sangat sulit menerimanya.

Pada waktu Allah mencobai Abraham, Allah meminta Abraham menyerahkan anak yang paling dikasihinya sebagai korban bakaran. Sebagai seorang manusia dan sebagai seorang Bapak, pastilah hati Abraham sangat hancur. Anak yang begitu lama dinanti-nantikan dan dijanjikan Allah akan meneruskan keturunan Abraham malah kini diminta Allah kembali sebagai korban bakaran. Tetapi iman Abraham kepada Allah membuat dia tidak ragu terhadap perintah Allah. Abraham percaya Allah yang disembahnya tidak akan mengecewakannya. Dalam ayat ke 2 tidak sedikitpun ditemukan bantahan, sanggahan atau bahkan sekedar pertanyaan yang dilontarkan Abraham. Di ayat 3 dijelaskan bahwa Abraham langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Allah. Ini membuktikan dia tidak sedikitpun ragu terhadap Allah.

Dalam Ibrani 11:18-19 “walaupun kepadanya telah dikatakan: ”Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berfikir, bahwa  Allah berkuasa membangkitakan orang – orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan – akan telah menerimanya kembali.” Pada ayat ke 19 dapat kita lihat betapa Abraham sangat mengenal Allah. Sangatlah tepat di sebut “Bapa Orang Percaya”. Dari Abraham kita dapat belajar bahwa kita tidak dapat patuh kepada pribadi yang tidak kita kenal. Kita tidak akan mempercayakan diri kita dituntun oleh pribadi yang  tidak kita percayai. Karena itu mari kenali Tuhan Yesus secara pribadi dan percayakan hidup kita dituntunNya.

Sumber : Fernandes Sembiring, PERMATA GBKP Runggun Tanjung Langkat
Klasis Kuala Langkat

Post Terkait