Renungan Harian, 10 Februari 2019
Persekutuan Di Dalam Tuhan

Nehemia 2:17-18; 8:1-8

Nehemia sebagai hamba Allah sangat sedih dan mendoakan bangsa Israel yang menderita akibat serangan bangsa Babel dan runtuhnya tembok Yerusalem. Karna kuasa dan pertolongan Allah,akhirnya tembok Yerusalem dapat dibangun kembali. Dan setelah tembok selesai dibangun, pintu-pintu telah dipasang, dan kota Yerusalem telah pulih kembali, serta bangsa Israel telah kembali menetap di kota-kotanya; maka persekutuan sudah kembali dapat terjalin. Mereka berkumpul bersama, bersekutu dan bersama-sama kembali menyembah dan memuji Tuhan yang telah menolong mereka. Ezra, seorang ahli kitab membacakan kembali dengan jelas mengenai Taurat Allah sehingga mereka dapat memahaminya. Lalu nabi Nehemia, imam Ezra (ahli kitab itu), serta orang-orang Lewi yang mengajar mereka menyatakan bahwa: “Hari ini adalah hari yang kudus bagi Tuhan Allahmu.” (Nehemia 8:10a). Dan mereka semua menyembah, bersekutu kepada Tuhan, Allah Israel.

“Sungguh alangkah baiknya sungguh alangkah indahnya bila saudara semua, hidup rukun bersama….” Syair lagu yang terdapat dalam Mazmur 133 ini, menyatakan kepada PERMATA GBKP, bahwa betapa indah dan baiknya hidup dalam persaudaraan yang rukun dan bersama-sama memuji dan menyembah Tuhan dalam persekutuan denganNya. Seperti bangsa Israel yang akhirnya hidup rukun bersama di dalam persekutuan, menyembah, serta memuji Allah; kita juga harus selalu bersekutu, menyembah dan memuji Allah dalam setiap kehidupan kita. Sebagai anak-anak yang percaya dan taat kepada Tuhan, kita harus bertanggung jawab untuk menciptakan persekutuan iman yang indah diantara kita, sehingga satu sama lain memiliki rasa kerinduan untuk bersekutu bersama. Dengan pergi ke Gereja, pergi ke PA, dan juga menciptakan keharmonisan diantara kita, serta sikap hidup kita (perkataan dan perbuatan) yang yang baik; maka kita sudah mencerminkan anak-anak yang taat dan percaya kepada Tuhan sang penolong kita.

Sumber : Pdt. Mira Mutianta Sinulingga, S. Th

Post Terkait