Renungan Harian, 15 Februari 2019
Amsal 1:7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”

Ayat ini merupakan ayat yang sudah sering kita dengarkan bahkan beberapa dari kita menghafal ayat ini. Ayat ini dengan jelas menyatakan kunci dari permulaan pengetahuan adalah Takut akan Tuhan. Pengetahuan pada ayat ini bercerita tentang Hikmat. Apa itu Hikmat? Hikmat datangnya dari pada Tuhan. Hikmat itu lebih tinggi dari kepandaian. Pandai belum tentu berhikmat. Pandai itu bisa datang dari usaha kita. Misalnya: rajin belajar, rajin berlatih sehingga bisa pandai tetapi belum tentu berhikmat. Hikmat adalah pemberian Tuhan. Hikmat itu seperti pengertian. Misalnya: kita dihadapkan pada situasi yang membingungkan, seperti kita tidak mengerti apa artinya, tetapi suatu hari kita mengerti, situasi itu punya makna dan mendatangkan kebaikan buat kita. Seperti contoh pada seperti Raja Salomo ketika dihadapkan pada dua orang ibu yang memperebutkan seorang anak. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Raja Salomo meminta hikmat kepada Tuhan, sehingga dia dapat memutuskan dengan bijaksana. Hikmat sering dikaitkan dengan kebijaksanaan, karena Hikmat yang menuntun kita menjadi bijaksana. Seperti pada akhirnya Salomo diberikan Hikmat pengertian yang menuntunnya dalam menentukan apa yang harus dia lakukan.

Untuk apakah hikmat itu? Amsal 3: 22-24. “maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.” Ayat ini menjelaskan pentingnya Hikmat dalam hidup kita. Ketika kita berhikmat, Hikmat akan menuntun kita sehingga kita akan berjalan aman dan tidak terantuk yang artinya jauh dari keraguan, ketika berbaring, kita akan tidur nyenyak yang artinya jauh dari ketakutan.

Hikmat itu mahal namun tidak bisa dibeli dan tidak bisa kita peroleh dengan cuma-cuma. Amsal 3:13 “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang mendapat kepandaian sebab keuntungannya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas.” Mengapa melebihi perak dan emas? Karena dalam tangan si pemberi Hikmat (Allah) terdapat umur panjang, kekayaan dan kehormatan yang jelas lebih mahal dari perak dan emas. Amsal 3:16 “Umur panjang ada di tangan kanan-Nya, di tangan kiri-Nya kekayaan dan kehormatan” bukan hanya itu, Amsal 3:17 “jalanNya adalah jalan penuh bahagia, segala jalanNya sejahtera  semata-mata”. Hal ini membuktikan bahwa janji Tuhan itu melebihi perak dan emas.

Hikmat hanya bisa kita peroleh jika kita takut akan Tuhan. Bagaimana caranya? Amsal 3: 5-7 mengajarkan kita:

  1. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati. Percaya artinya tidak ragu. Percaya dengan segenap hati artinya percaya penuh tanpa keragu-raguan kepada Tuhan dan janjiNya.
  2. Tidak bersandar pada pengertian sendiri. Artinya, tidak mengandalkan kepintaran atau pengetahuan yang berasal diluar Tuhan. Contoh: pengetahuan sendiri, horoskop, zodiac, dll yang bukan berasal dari iman percaya kita pada Tuhan
  3. Mengakui dia dalam segala hal maka Dia akan meluruskan jalan kita. Artinya apapun yang kamu lakukan, libatkan Tuhan lewat doa dan permohonan maka Ia akan memberikan petunjuk dan meluruskan jalan kita.
  4. Jangan menganggap diri sendiri bijak. Artinya menyadari bahwa Hikmat hanya berasal dari pada Tuhan.
  5. Takutlah akan Tuhan dan Jauhi lah kejahatan. Artinya menjauhi segala bentuk larangan Tuhan.

Sebagai anak-anak muda tentunya kita banyak dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang menuntut kita memilih dengan bijaksana. Milikilah Hikmat, karna Hikmat akan menuntun kita kedalam kebenaran.

Sumber : Grace Desyanna Sitepu, PERMATA GBKP Runggun Sei Padang, Klasis Medan Kampung Lalang

Post Terkait