Renungan Harian, 21 Juli 2019
Mazmur 147 : 3 

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka”

 Penulis mengambil ayat tersebut dengan menghubungkan bagaimana tentang luka ditinggal orang yang dikasihi. Sebut saja, kedua orang tua.  Orangtua adalah tempat berteduh, bercerita serta membalas kebaikan yang mungkin tak terbalaskan. Masih ingat masa kanak-kanak jika tidak melihat orangtua kita ? dan bagaimana semua terjadi jika kita kehilangan kedua orangtua di usia yang cukup untuk belajar mandiri ? Kehilangan orang yang kita kasihi  begitu sulit untuk diterima, tetapi Tuhan sendiri lebih besar kuasanya dibandingkan luka yang dialami.

Ada sebuah kisah, “Ada seorang PERMATA yang ditinggalkan kedua orangtua.  Satu tahun sejak ia lulus menjadi seorang sarjana, ibunya  sakit dan meninggal. Anaknya ketika itu berusia 23 tahun. Ia belum sempat membahagiakan orangtuanya. Setahun setelah kepergian ibunya, bapaknya dipanggil oleh Tuhan karena kecelakaan lalu lintas. Ia sangat terpukul dan tidak menyangka  begitu cepat kedua orangtuanya pergi.

Perasaan  lemah dan rapuh tentu saja ada. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Dengan mencari TUHAN.

Matius 11:28, “Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”  Memang jika kita pikirkan jalan Tuhan tak terselami  dan tak mudah dimengerti tapi percayalah Tuhan pasti pulihkan.

Janganlah berlarut dalam kesedihan sehingga membuat kita lemah. Pandang dan bangkit. Kamu itu tidak sendiri sekalipun orangtua tidak ada lagi. Tuhan beserta kita. Begitu juga kamu rasakan banyak sayang kepada kamu! Perjalanan begitu panjang. Masih banyak yang belum dikerjakan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12).

Marilah kita tetap percaya, bertekun dalam doa meminta kekuatan dari Tuhan sebab firman Tuhan memampukan kita untuk menjadi  seperti burung rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40: 31).

Jika kita memiliki masalah, berkomunikasi dengan Tuhan. Dan sekali lagi, jangan larut dengan marahmu! Bukankah marah berdampak negatif. Ada beberapa hal yang perlu direnungkan:

  1. Marah berdampak bagi kesehatan

Marah menimbulkan tindakan yang membuat malas melakukan sesuatu. Misalnya saja, tidak mau makan atau menunda makan karena ada masalah. Nah, sering anak muda atau PERMATA melakukan ini atau hal sekecil lainnya  Bukan saja berdampak  bagi kesehatan tetapi membawa kejahatan. Tuhan berfirman, “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kejahatan. (Maz 37:8.”

  1. Marah membuat hubungan dengan Tuhan dan sesama tidak baik

Tak dapat dipungkiri semua orang tentunya pernah marah. Marah membuat kehilangan kendali. Apabila kehilangan akal sehat, maka kata-kata serta tindakannya tidak dapat terkontrol. Misalnya saja, dengan perkataan. Akibatnya, hubungan ini menjadi tidak baik. Oleh karena itu, hendaklah kamu ramah seorang yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.(Efesus 4:32)

Terakhir, kerjakanlah bagianmu. Ingat, kita adalah pilihan Tuhan yang begitu berharga di mataNya. “Bukan  kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah-buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu (Yoh 15:16)

Waktu kita bukan waktu Tuhan,Tuhan akan membalut luka dengan sukacita bagi kita yang percaya.  Semangat!

Sumber : Ceria Kristi br.Tarigan, PERMATA GBKP Runggun Bangun Purba, Klasis Lubuk Pakam

Post Terkait