Renungan Harian, 16 Maret 2019
1 Yohanes 4 : 7 - 21
Allah adalah kasih dan kasihNya kepada kita adalah tetap adanya, tidak pernah berubah oleh zaman. Karena Allah adalah kasih, maka sifat kasih memang adalah kekal, artinya tidak berkesudahan. Bila kita melihat antara iman pengharapan dan kasih, maka dikatakan diantara ketiga hal diatas, maka kasih adalah yang terbesar diantaranya. Akan ada saatnya iman dan pengharapan menjadi nyata, namun ketika semuanya telah menjadi nyata, maka satu hal yang harus tetap tinggal adalah kasih. Setiap orang yang lahir dari Allah pasti akan mengenal kasih dan saling mengasihi.
Kasih terbesar dari Allah yang telah kita terima adalah ketika Tuhan sendiri turun ke dunia dalam nama Yesus Kristus, menyerahkan diriNya dalam salib Kristus untuk mendamaikan dunia. Untuk menebus dosa dan kembali melayakkan kita, manusia di hadapan Bapa. Inilah puncak kasih terbesar Allah kepada manusia. Dan karena alasan inilah, maka Allah menginginkan setiap manusia untuk saling mengasihi. Ketika kasih ada di dalam diri kita, maka sebenarnya Allah tetap di dalam kita.
Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Allah tidak pernah merasa takut, maka ketika kita berada dalam kasih, maka kita tidak akan merasa takut. Kita mengasihi Allah karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita. Tuhan mengasihi kita bukan karena siapa kita, melainkan tentang siapa diriNya. Karena kasihNya kepada kita jugalah maka Ia membentuk kita segambar dengan diriNya. Begitulah kasih Allah kepada kita, bahkan ketika kita tidak setiapun dan melakukan dosa, Ia tetap mengasihi kita, karena Ia tidak dapat menyangkal diriNya (2 Timotius 2 : 13), namun ini jangan dijadikan alasan kita untuk sengaja hidup di dalam dosa, karena kasih Allah adalah kasih yang tegas dan Allah tidak akan membiarkan diriNya dipermainkan.
Kasih Tuhan adalah kasih yang telah teruji oleh waktu. KesetiaanNya kepada kita tidak akan pernah luntur ditelan zaman. Karena itu, Ia ingin setiap anakNya meneladani kasihNya kepada sesama manusia. Meneladani kasih Tuhan bukan berarti kita harus menyalibkan diri kita, karena makna penyaliban Tuhan Yesus adalah penebusan dosa dan hanya Tuhan saja yang mampu melakukannya. Hanya pribadi yang suci dan tidak berdosa sajalah yang mampu menebus segenap orang yang dosa dan itu hanya di dapatkan dalam pribadi Yesus Kristus. Selanjutnya, meneladani kasih Tuhan Yesus adalah dengan belajar tentang kasih yang telah Ia ajarkan dalam FirmanNya yang terdapat dalam 2 Korintus 13 : 4 – 7.
PERMATA, kasih bukanlah hanya sebuah perasaan yang menggebu seketika lalu hilang dilesap angin, namun kasih harus diaplikasikan dalam kehidupan.

Post Terkait