Renungan Harian, 06 Februari 2019
Nehemia Mendoakan Yerusalem

(Nehemia 1:4-11)

Kitab Nehemia menceritakan keadaan Israel setelah kembali dari pembuangan Babel dan tiba di Yerusalem. Nehemia bekerja sebagai juru minum ketika itu. Mendengar berita tentang keadaan penduduk Yerusalem yang menderita dan tembok Yerusalem tinggal reruntuhan, Nehemia menangis dan berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan supaya Tuhan mau menolong orang-orang Israel. Beberapa hari lamanya Nehemia berkabung, berpuasa dan berdoa. Doa-doa yang diucapkan Nehemia berisi tentang, pertama: Pengakuan iman Nehemia kepada Tuhan. Nehemia mengaku bahwa Tuhan, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat (ayat 4-5), kedua: Pengakuan dosa dirinya, keluarganya dan seluruh orang Israel yang telah bersalah dan tidak mengikuti perintah serta peraturan yang telah diberikan Allah melalui Musa (ayat 6-7), ketiga: Ajakan pertobatan kepada Israel supaya kembali kepada Tuhan dan mau melakukan segala perintahNya serta melakukannya, maka Tuhan akan mengumpulkan semua orang Israel yang dibuang dan akan membawa mereka ke tempat yang telah dipilihNya untuk membuat nama Allah diam di sana, keempat: Nehemia memohon kiranya Tuhan mendengarkan doanya dan doa para hamba Tuhan yang percaya dan takut kepadaNya. Nehemia percaya dalam situasi umat Israel yang sangat sulit dan keadaan kota-kota dan tembok Israel yang hancur akibat serangan bangsa Babel, bahwa hanya kuasa dan kekuatan Tuhan yang mampu mengubah semua itu. Hanya Tuhan yang sanggup menolong bangsa Israel dari penederitaannya.

Seperti Nehemia, PERMATA GBKP juga harus selalu berdoa kepada Tuhan. Kita berdoa bukan hanya ketika ada kesulitan, pada saat sakit atau mau makan. Tetapi setiap saat kita harus berdoa. Kita berdoa bukan hanya untuk keperluan diri kita saja tetapi mendoakan orang lain juga. “Berdoa berarti: kita berkomunikasi dengan Allah, kita membuka hati dan diri kita bagi Allah supaya Dia mau tinggal di dalam kita untuk menolong kita. Jika kita tidak berdoa berarti kita menutup diri untuk kehadiran Allah dalam hidup kita dan kita tidak mau bersekutu dengan Dia. Dalam berdoa, kita harus mengakui kelemahan, ketidak berdayaan dan dosa-dosa kita dan hanya Tuhan yang mampu menolong kita. Ketika berdoa, kita harus sopan, rendah hati dan menunjukkan keseriusan. Sikap serius bisa kita tunjukkan dengan sikap duduk baik, lipat tangan dan tutup mata. Allah memang hadir di segala tempat dan waktu, dan tanganNya tidak kurang panjang untuk menolong anak-anakNya. Tetapi Allah mau melihat anak-anakNya yang setia dan punya sikap rendah hati mau meminta dengan tulus kepada Allah. Tetaplah setia untuk berdoa, bukan hanya mendoakan pribadi tetapi setia juga bersyafaat untuk mendoakan sekitar kita. PERMATA GBKP menjadi pendoa bagi dunia!

 

Sumber : Pdt. Mira Mutianta Sinulingga, S. Th

Post Terkait