Kesuksesan Sejati

Renungan Harian, 01 November 2018

Amsal 3:1-26

Berulang kali, nats ini menyentuh diri dan jiwaku. Berulang kali pula, aku bergumul dengan apa yang hendak Amsal sampaikan. Sebagai salah satu dari 3 kitab Hikmat, Amsal menyajikan pengajaran yang luar biasa, terkhusus bagi kaum muda, bahkan bagi yang sudah berusia tua pun, Amsal sebagai reminder yang ulung bagi jiwa-jiwa yang ‘kosong’.

Nats ini, secara khusus, dalam ayat 21-22 adalah penegasan dari keseluruhan. Mengapa? Karena, dari hal tersebut kita mampu melihat apa sebenarnya arti dari makna ‘Berkat dan Hikmat’ pada bagian Amsal yang satu ini.

“Kesuksesan Sejati” rasa-rasanya adalah tema yang sulit untuk saya terjemahkan. Bahkan, sering sekali kesuksesan diukur karena materi ataupun jabatan dari seseorang. Sesungguhnya, kesuksesan ialah sebuah proses, bukanlah sebuan tujuan. Maka, “Kesuksesan Sejati” dapat diartikan sebagai sebuah cara pandang, pola pikir, begitupun pola perilaku yang mengharuskan kita untuk memiliki keteguhan hati, prinsip, dan jiwa militansi.

Realitasnya, sebagai manusia yang kodratnya adalah aktif melakukan segala sesuatu, tentu sangatlah penting bagi kita memahami dan tahu bagaimana kita harus bersikap/bertingkah laku dalam kehidupan ini, terkhusus dalam menjalani “Kesuksesan Sejati” yang kita sebut sebagai sebuah proses. Mari bersepakat dengan itu!

Johanes Calvin, dalam pandangannya memahami bahwa konsekuensi dari “mengerjakan” kesuksesan sejati ialah sebuah harta atau jabatan. Ya, dalam arti, kita harus memahami “Kesuksesan Sejati” adalah proses aktif yang berlangsung terus-menerus demi sebuah tujuan, entah berujung dengan kepuasan atau hanya sekadar kesenangan sementara. Perlu rasanya kita memahami “upah” dari proses tadi, yakni :

  1. Segala jabatan, ataupun materi ialah anugerah dari Tuhan. Dan bukan sebaliknya jika pekerjaan yang kita lakukan mengalami peningkatan (jabatan/pangkat, dsb) cenderung kita merasa bahwa itu adalah hasil tenaga/usaha kita sendiri. Jika ini terjadi berarti esensi dari harta itu sendiri telah hilang (bnd. Tafsiran Calvin dalam Luk. 19:11-27 “harta sebagai sebuah anugerah”)
  2. Berkaitan dengan harta dan uang. Calvin berpendapat bahwa uang sesungguhnya dipakai untuk melayani manusia, bukan sebaliknya manusia dipakai (dieksploitasi) untuk dan demi uang, karenanya jika ada sikap yang hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri bahkan rela mengorbankan orang lain untuk & demi uang. Ini sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan dan merusak kebersamaan dalam masyarakat. Lebih lanjut, Ini merupakan penekanan agar tetap menjaga kesucian hidup & pelayanan demi kemuliaan Tuhan. Dan jangan karena harta kita menyimpang dari kesucian hidup.

Oleh karenanya, mari buat “ukuran” ataupun indikator terbaru oleh pemikiran kita. Sekali lagi, “sukses” adalah proses, bukan tujuan. Segala yang kita miliki, baik jabatan atau materi, anggaplah sebagai cara kita untuk memberikan kontribusi berpikir bagi kita untuk di terapkan dalam kehidupan ini sebagai upaya mencapai sebuah keberhasilan hidup.

Apakah itu keberhasilan hidup? Yakni dengan tidak malas atau hidup dalam kemalasan, tetapi harus senantiasa memiliki mentalitas “kerja” atau militan sebagai gaya hidup yang penuh tanggung jawab, tekun (disiplin), rajin, dan produktif dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai wujud panggilan pelayanan yang memuliakan Allah.

Mari, mulai segalanya dari diri sendiri. Berubahlah demi proses, bukan untuk sebuah tujuan. Fokus pada proses, bukan membayangkan tujuan. Karena proses tak akan pernah mengkhianati hasil.

Post Terkait