Renungan Harian, 26 Mei 2019
Matius 7 : 12 – 14

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7 : 12)

Beberapa hari ini, masalah yang saya hadapi adalah saya tidak bisa tidur. Entah mengapa, padahal rutinitas harian saya sangat melelahkan. Ini adalah masalah yang sangat jarang saya hadapi, karena biasanya, dengan rutinitas pekerjaan yang sangat menyibukkan, seharusnya saya kekurangan waktu untuk tidur.

Selidik punya selidik, tanpa saya sadari, ternyata saya sedang “banyak pikiran”. Kesibukan pekerjaan yang menjemukan sampai memikirkan sikap orang yang sering sekali diluar akal logika berfikir. Bagaimana tidak, terkadang dalam pelayan-pun, ada saja orang yang selalu memanfaatkan usaha “tulusnya” sikap seorang untuk maksud yang tidak seharusnya. Seorang teman meminta pertolongan yang pada akhirnya saya sadari tujuannya adalah untuk memuaskan kepentingannya sesaat yang tidak penting. Belum lagi teman yang lain, yang ternyata ingin sekali dipuji secara berlebihan untuk sesuatu yang dianggapnya pantas baginya. Ditambah lagi, cerita seorang teman yang hanya ingin melakukan yang katanya pelayanan baginya, namun sering sekali tebang pilih dan juga seorang teman yang belakangan hanya ingin “memancing” emosi kemarahan. Semuanya memang saya tahan untuk tetap mengerti keadaan orang lain, namun tanpa sadar, saat sedang lemah, dunia pelayanan terkadang menjadi terasa sangat menjemukan. Bila menuruti hawa nafsu duniawi, mungkin sudah lama saya berhak untuk marah. Sesekali pemikiran tersebut juga datang melanda.

Seringsekali memang “tulus” dianggap sebuah kebodohan bagi dunia. Orang dunia seringsekali memanfaatkan ketulusan dari seseorang untuk maksud yang tidak baik. Memang benar, seorang pelayan tidak boleh lekas naik darah, tetapi bukankah sebagai sesama pelayan, kita juga tidak boleh menimbulkan amarah seseorang. Memang benar, melayani harus saling tolong menolong, namun bukankah pertolongan yang diberikan harus dengan tujuan yang baik. Lalu, apakah kita melayani dengan benar, jika hanya melayani dalam keadaan ketika senang saja atau kepada orang tertentu saja ?

Ketika membaca nats ini, saya merasa terpukul. Saya diingatkan kembali tentang arti kata tulus sebenarnya. Ketulusan berarti melakukan segala sesuatu yang kita kehendaki orang lain juga melakukannya kepada kita. Artinya, ketika ingin ditolong, maka menolong-lah terlebih dahulu. Ketika ingin dicinta, maka mencintai-lah terlebih dahulu. Seharusnya saya tidak memikirkan apa yang bodoh ketika ingin melayani.

Lakukan saja dengan ketulusan, walau terkadang balasan yang kita terima tidak sesuai bahkan mengecewakan. Karena sebenarnya, kita harus berfikir, bahwa pelayanan dengan ketulusan adalah untuk menyenangkan hati Tuhan. Tuhan sudah lebih dahulu melayani kita dengan jalan salib yang ditempuhnya dan Ia berharap kita dapat memikul salibNya dan menyangkal diri serta mengikutiNya.

Yesus menyelamatkan manusia dari dosanya, juga tanpa menerima balasan yang baik dari manusia, tapi Ia tidak mundur sama sekali untuk melakukan kehendak Bapa, walau dalam hatiNya, Ia ingin sekali manusia menerimaNya

Jika kita melakukan pelayanan untuk Tuhan, maka seharusnya kita tidak akan kecewa walau apapun yang sedang terjadi. Tetap bersikap tulus, karena kita percaya, ketulusan akan berbuah manis bersamaNya. Jika tidak mendapatkan balasan kepada manusia, jika kita melakukan pelayanan dengan ketulusan, Tuhan yang akan membalas setiap ketulusan yang kita lakukan. Jadi, walau apapun yang terjadi “perbuatlah segala sesuatu yang kita kehendaki orang lain juga melakukannya kepada kita”. Jangan mengeluh, jangan ngedumel dan jangan menyerah. Lakukan semuanya untuk Tuhan, karena jalan menuju kehidupan memang sempit adanya. Akan banyak tantangan memang ketika melakukannya, namun Tuhan bilang “Masuklah melalui pintu yang sesak itu..”

Post Terkait