Ketulusan Dari Hati

Renungan Harian, 25 Agustus 2018

Mazmur 73 : 1

Sesungguhnya ayat ini sangat bagus terutama bagi kawula muda dalam menghadapi banyak pergumulan, terutama pergumulan yang banyak orang beken bilang “cinta”.

Dalam beberapa artikel, salah satu masalah yang bagi kawula muda dan kebanyakan orang sekarang adalah cinta. Karena itu, kalau kita baca, masalah perselingkuhan dan perzinahan kini sedang menjadi masalah yang banyak terjadi. Tidak hanya di lingkungan manusia yang tidak mengenal Tuhan, bahkan kasus perselingkuhan sudah menyinggung banyak anak-anak Tuhan yang aktif pelayanan. Bukan hanya di lingkungan pernikahan, bahkan ketika pacaran pun, banyak anak Tuhan ternyata sudah memulai perselingkuhan.

Ketulusan dan kesetiaan sudah dianggap sampah kebodohan. Padahal, ayat ini jelas jelas mengatakan, Tuhan sangat MENYUKAI orang yang TULUS dan BERSIH hatinya.

Bila kita bicara tentang cinta dan mencintai, satu-satunya teladan yang patut kita contoh adalah Tuhan kita, Tuhan Yesus. Dia yang adalah anak seorang Raja, Bapa yang kekal, namun datang kedunia, direndahkan dan dicaci maki oleh orang-orang dunia yang sudah jelas jelas melihat KETULUSANNYA. Semua hanya karena CINTANYA bagi kita, manusia berdosa. Dia ingin membebaskan dan menebus kita dari segelintir kemelut dosa kita. Kalau dipikir lagi, dosa manusia itu sudah sangat parah. Bila kita mau menghitung dan menyadari dosa-dosa kita, ibarat Rumah Sakit, manusia berada di ruangan ICU karena sudah koma. Artinya, dosa manusia sudah teramat berat. Tetapi Yesus adalah pribadi yang mampu menang dan mengalahkan semua dosa kita. Dialah pribadi yang TIDAK PERNAH MENYERAH dengan KETULUSANNYA bagi kita.

Teladan Yesus sudah sangat cukup untuk mampu kita contoh dalam kehidupan, juga termasuk dalam kehidupan percintaan bagi anak-anak muda. Bagaimana membangun hubungan yang sehat, bagaimana membangun komitmen, bagaimana menghadapi ketika ketulusan yang kita bangun akhirnya berakhir pada sebuah pengkhianatan.
Semuanya hanya dengan cara “tetaplah setia pada ketulusanmu, karena itulah yang diinginkan Tuhan”.

Bukankah kita ini adalah anak-anak Tuhan, yang ketika ada pria atau wanita yang datang, ingin membangun komitmen dengan kita, dia harus PERMISI terlebih dahulu kepada Bapa kita, yaitu Yesus. Karena itu, tetaplah menjadikan Tuhan Yesus sebagai landasan kita membangun hubungan. Seseorang yang datang, haruslah mencintai Yesus terlebih dahulu, lalu setelahnya dia membangun komitmen dengan kita.

Bila kita serahkan sepenuhnya kepada Tuhan, siapa lagi yang mampu menyakiti kita? Bukankah ketika kita berserah, yang ada hanyalah kebahagian.

Lalu bagaimana dengan anak Tuhan yang menjunjung tinggi kesetiaan namun mendapatkan pengkhianatan ketika berpacaran ?
Bila itu terjadi, jangan ragu ragu untuk TEGASKAN KEPUTUSANMU, karena anak Tuhan bukanlah anak rendahan. Bapa kita saja, sangat menyanyangi kita, lalu mengapa kita membiarkan orang lain berhak untuk merendahkan kita ? Setelah itu, berdoa-lah bagi dia. Berdoal-lah, memohon kepada Tuhan untuk mengubahkannya menjadi lebih baik dan bertobat dari dosa memgkhianati. Itulah kapasitas yang harus kita lakukan sebagai anak Tuhan.

Jangan membenci kita disakiti, sebaliknya berdoalah dan berceritalah sebanyak mungkin kepada Tuhan, lalu tetap diam dan tenang dan jangan membalas. Sekuat tenaga, kembali-lah tersenyum kepada dunia dan jangan pernah menyerah kepada ketulusan. Bila itu yang kita lakukan, maka bukan kita, tetapi Bapa yang di Sorga yang akan berperkara bagi kita. Ketika kita tetap berserah walau dalam situasi sulit, bukan manusia lagi, tetapi Bapa kita yang di Sorga yang akan segera membela kita.

Bukankah sebenarnya hidup kita ini, bukan berbicara tentang kita lagi, tetapi Yesus yang ada di dalam kita.

Sebaliknya, untuk membangun hubungan yang sehat, bangun-lah hubungan, yang Tuhan Yesus adalah yang utama di dalamnya, yang sudah pasti memelihara kekudusan menjadi bagian di dalamnya.

Romantisme adalah ketika dua orang bersepakat berdoa dan berjalan bersama Yesus.

Jika seseorang seperti itu belum kamu dapatkan hingga kini, jangan menyerah, karena janji Tuhan itu selalu PASTI di waktuNya Tuhan, bukan waktu kita. Sabar saja dan tetaplah yakin.
Ketahuilah, jalan Tuhan bagi setiap orang selalu berbeda, namun muaranya selalu kepada kebahagiaan. Umur hanyalah sebuah angka yang harus selalu kita syukuri BUKAN kutuki.

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.