Renungan Harian, 19 Oktober 2018
Ibrani 12  : 14 - 15

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.
Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencermarkan banyak orang.
Akar pahit dapat diibaratkan sebagai dosa yang parah, karena dapat menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. Dalam akar pahit, ada sesuatu yang parah yang sedang menggerogoti diri dan membuat orang lain tidak nyaman. Ini diumpakan sebagai dosa yang sudah matang. Orang yang hidup dalam akar pahit tidak akan pernah merasakan Tuhan dalam hidupnya. Ia menjadi pribadi yang cenderung apatis dan egois. Jika dia mengaku dia mengasihi Tuhan, tetapi masih menyimpan akar pahit, inilah yang dikatakan oleh Yakobus 1 : 22, ia menipu dirinya sendiri. Tidak mungkin orang yang hidup di dalam Tuhan, masih menyimpan akar kepahitan dalam hidupnya, karena akar pahit memutuskan hubungan Allah dengan manusia.
Dalam nats hari ini, kita diingatkan untuk hidup berdamai dengan semua orang, karena Tuhan kita, Yesus Kristus adalah Raja Damai.
Tidak ada kemunafikan di Surga, karena itu, kita harus mampu melepaskan akar pahit dalam hidup kita dan merasakan kemerdekaan di dalam Tuhan, membiarkan Roh Kudus bekerja secara leluasa dalam hidup dan kehidupan kita (2 Korintus 3 : 17)
Hidup yang telah dikuduskan oleh Tuhan kita, berarti hidup dengan melepaskan dan membuang segara akar kepahitan yang merupakan sampah dalam kehidupan. Banyak sekali orang pada zaman sekarang terlalu fokus pada sampah kehidupan ini, sehingga tidak sedikit orang merasa berhak untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.
Tetapi Firman hari ini, mengingatkan kepada kita untuk membuang akar pahit, sehingga kita mampu merasakan kemerdekaan, kebebasaan di dalam Tuhan. Itu adalah sebuah pilihan yang bijak.
Membuang akar pahit, tidak melakukan dosa, penyembahan berhala, dan sebaliknya fokuslah kepada Tuhan dengan melakukan kasih yang diajarkanNya kepada kita. Percayalah, ketika kita melakukan itu, hati kita akan dipenuhi oleh Roh Kudus. Dan fokus hidup kita hanyalah bagaimana untuk selalu menyenangkan Tuhan.

Post Terkait