Renungan Harian, 10 September 2019
Lukas 11 : 37 – 54

“ Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Tetapi Ia menjawab : “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.”

Syalom, Turang Senina!

Berbicara tentang Firman Tuhan akan selalu berbicara tentang sebuah keajaiban, mukjizat, hikmat dan kebijaksanaan yang sangat banyak terkandung di dalamnya. Timotius malah mengatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang sangat bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan hingga mendidik orang dalam kebenaran. Memahami kebenaran Allah tidak akan mungkin jika tidak memakai iman dalam meyakininya.

Hari ini Firman Tuhan bercerita kepada kita tentang teguran yang diperbuat oleh Yesus kepada orang farisi dan ahli Taurat. Kedua kalangan ini sangat menentang terhadap apa yang dikatakan Yesus dalam pengajarannya karena mereka selalu menilai berdasarkan penglihatan mereka, apa yang mereka anggap baik tanpa mereka pernah mengerti dengan iman melalui hati mereka. Yohanes Pembaptis malah mengatakan bahwa mereka-mereka ini adalah keturunan ular beludak. Ular beludak adalah sejenis ular yang sangat mengerikan yang bahkan memakan sejenis mereka jika sudah tidak ada makanan lagi.

PERMATA, Firman Tuhan sangat menegur keras orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka sesugguhnya tidak memahami akan keadilan dan kasih Allah. Keadikan dan kasih mereka timpang karena mereka hanya mendasarkan segala sesuatu menurut pembenaran diri mereka sendiri tanpa mendasarkannya kepada hati nurani dalam Firman Tuhan. Mereka selalu melakukan kewajiban-kewajiban agama mereka hanya untuk dilihat orang saja, hanya ingin dipandang baik dan taat oleh dunia, tetapi sesugguhnya mereka tidak memelihara hati dari segala jenis kejahatan. Mereka memberikan persepuluhan, namun supaya ingin dilihat orang. Mereka duduk di bagian depan tempat ibadat, hanya agar dipandang baik dan gila hormat dan masih banyak lagi lainnya. Seharusnya, kewajiban memang dilakukan, namun dengan hati yang tertuju kepada kasih Kristus.

Sadar atau tidak, kejadian seperti ini banyak sekali terlihat di dalam dunia nyata. Namun sebagai PERMATA yang telah diajarkan oleh Tuhan pada hari ini, mari kita belajar untuk memelihara hati dan setiap perbuatan kita untuk tetap seturut dengan Firman Tuhan tanpa ada keinginan untuk dipandang dunia.

Post Terkait