Renungan Harian, 30 Juni 2019
Lukas 24 : 45

“Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci”

Alkitab mencatat bahwa orang yang sesat adalah orang yang tidak mengerti kitab suci maupun kuasa Allah (Markus 12 : 24). Untuk mengerti Kitab Suci dan kuasa Allah, tentu saja kita tidak dapat mengandalkan pemikiran kita. Diperlukan kuasa Tuhan dalam Roh Kudus untuk menterjemahkan seluruh isi Kitab suci sehingga kita menjadi mengerti kebenaran.

Perikop ini bercerita tentang keadaan setelah Yesus bangkit. Ia menampakkan diri kepada beberapa orang dan salah satunya adalah kepada dua orang yang berjalan ke Emaus. Tuhan menampakkan diri kepada mereka, namun mereka tidak mengenal siapa Tuhan Yesus. Mereka juga masih saja tidak percaya ketika Maria dari Magdala dan beberapa temannya yang sudah dari kubur Yesus dan mengatakan Yesus tidak ada di dalam kubur itu. Dan ketika mereka bercakap cakap di jalan tentang keadaan yang sedang hangat terjadi, Yesus menghampiri mereka dan berjalan bersama mereka, namun mereka tidak menyadari bahwa yang berjalan bersama mereka adalah Yesus yang telah bangkit. Setelah sampai kepada kampong yang dituju, mereka mengundang Tuhan Yesus untuk tinggal bersama dengan mereka, kemudian Tuhan Yesus mengambil roti, memecah mecahkannya dan mengucapkan berkat. Pada saat inilah mereka menyadari bahwa pribadi yang berjalan bersama mereka itu adalah Yesus.

Sama seperti kisah di atas, kita seringsekali menjadi kedua murid yang tidak percaya bahwa Yesus telah mati dan dibangkitkan. Mereka memakai akal logika mereka dengan mengatakan bahwa “tidak mungkin orang yang sudah mati dibangkitkan”, padahal sebelum Yesus mati dan bangkit, selama Yesus bersama sama dengan mereka, mereka telah mendengar kisah ini dari Yesus.

Teman, mengerti kitab suci harus memakai iman yang lebih besar dari logika berfikir. Bukan berarti kita tidak boleh memakai logika, karena pikiran kita juga berasal dari Kristus, namun bukan mendasarkan segala sesuatunya dengan lodika. Kita boleh memakai logika namun kita harus mendasarkan segala pemikiran kita dengan iman. Bukankah iman berarti dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat ?

Post Terkait