Renungan Harian, 01 April 2019
Matius 18 : 21 - 35

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?  Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Matius 18 : 21 - 22)

Makna tujuh puluh kali tujuh berarti unlimited artinya tidak terbatas. Ini mengartikan bahwa sebagi orang Kristen kita harus selalu senantiasa mengampuni. Lebih lanjut dari ayat ini juga tentang perumpamaan tentang pengampunan Salah satu pelajaran yang dapat kita petik adalah seharusnya hamba tersebut mengampuni/menghapus hutang kawannya karena Tuhan (diumpamakan sebaga Raja) telah mengampuni dan menghapuskan segala hutang-hutangnya terlebih dahulu.

Lalu, mengapa terkadang orang begitu sulit untuk mengampuni ?

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari :

  1. Karena sudah terlalu sakit hati. Banyak orang tidak mampu mengampuni karena alasan sudah terlalu sakit hati terhadap kesalahan yang diperbuat orang lain kepadanya, padahal dalam Amsal 12 : 6 mengatakan ”Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga…” dan untuk setiap kebodohan Tuhan dalam FirmanNya mengatakan “Buanglah kebodohan maka kamu akan hidup (Amsal 9 : 6). Dari kedua ayat ini kita boleh belajar, bahwa untuk merasakan sakit hati saja kita tidak diperkenankan oleh Tuhan, karena Tuhan berkata itu adalah sebuah kebodohan.
  2. Kemarahan yang berlarut-larut. Salah satu penyebab orang sulit mengampuni adalah dikarenakan ia menyimpan amarah yang tidak selesai saat itu juga. Amarah yang disimpan berlarut-larut akan membuat orang tersebut selalu mengingat kesalahan orang yang telah melakukan kesalahan kepadanya. Pada renungan sebelumnya, kita telah belajar bagaimana marah ala Firman Tuhan. Anak Tuhan boleh saja marah, namun harus ada syaratnya dan pastinya, marahnya anak Tuhan bukanlah marah yang berlarut-larut yang akan menimbulkan kebencian yang mendalam, sebaliknya Firman Tuhan katakana “Segala kepahitan, kegermaan, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu demikian juga segala kejahatan (Efesus 4 : 31).
  3. Akar pahit. Kebencian dan kemarahan yang dismpan terus dalam hati dapat menimbulkan akar kepahitan dalam hidup. Bila tidak segera dibuang, ia akan dapat menggerogoti hati yang akhirnya menimbulkan kerusuhan dan kecemaran bagi banyak orang. PERMATA, jangan biarkan dirimu dikuasai oleh akar pahit dan putuskan keputusanmu untuk segera membuangnya, jika itu masih ada diantara kamu. Cara yang paling ampuh untuk melawannya adalah mendekatlah kepada Allah (Ibrani 12 : 15).

PERMATA, yuuk kita belajar untuk mengalahkan setiap kejatahan dengan kebaikan dan jangan beri kesempatan kepada iblis untuk menguasai hidup kita. Sebaliknya, peliharalah kekudusan hati sehingga Roh Kudus hidup dan bekerja secara leluasa dalam hati kita

Post Terkait