Baca:  Yeremia 17:1-18

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!”  Yeremia 17:5

Begitu cepatnya waktu berlalu, sementara segala angan dan impian belum juga terwujud. Hari-hari berat telah kita jalani, sedangkan dunia ini makin sarat dengan ujian, tantangan, penderitaan dan goncangan. Sungguh, perjalanan hidup yang begitu melelahkan.  Itulah sebabnya Pemazmur menasihati,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12).  Tidak perlu meratapi nasib dan larut dalam penyesalan.  Waktu tak bisa diputar kembali, akan terus melaju dan melaju.

Hari-hari yang telah kita lewati, termasuk di tengah pandemi COVID-19, biarlah menjadi pengalaman yang berharga dan koreksi bagi kita. Mungkin selama ini kita telah mengabaikan Tuhan dan lebih memilih mengandalkan manusia atau kekuatan sendiri dalam segala hal.  Mengandalkan diri sendiri sama artinya mengandalkan apa yang ada pada diri sendiri:  uang, deposito, kekayaan, status, pendidikan, jabatan dan sebagainya.  Kita merasa bahwa segala yang kita raih ini adalah semata-mata hasil dari jerih lelah sendiri, bukan karena Tuhan.  Namun, siapakah kita ini sehingga kita begitu membanggakan diri dengan apa yang kita miliki?  Daud berkata,  “…kita ini debu.  Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;  apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”  (Mazmur 103:14-16). Kita harus sadar bahwa segala hal yang melekat pada diri kita ini tidak akan mampu menolong dan melepaskan kita dari goncangan-goncangan yang ada di dunia ini, sebab kita ini hanyalah debu!  Seberapa kuatkah kita, sehingga dalam segala perkara kita mengandalkan diri sendiri?  Umur, kekuatan, kemampuan atau pun kepintaran kita adalah terbatas, bersifat fana dan pada akhirnya akan lenyap. (AB)

Jadi di dalam diri manusia tidak ada satu pun yang dapat diandalkan.  Karena itu jangan sekali-kali berharap kepada sesama manusia, kita pasti akan kecewa!  Ada tertulis:  “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?”  (Yesaya 2:22).