Mengapa Aku?

Renungan Harian, 21 September 2018

Rut 2:1-11

Rut adalah orang asing. Ia seorang janda miskin. Di banyak tempat di dunia ini, orang seperti Rut tidak akan dianggap—seseorang yang masa depannya suram dan tak berpengharapan.

Namun Rut mendapat belas kasihan dari seorang kerabat dari suaminya yang telah meninggal. Kerabat itu adalah seorang kaya dan pemilik ladang tempat Rut diizinkan untuk memungut jelai. Menanggapi kebaikan hati orang tersebut, Rut bertanya, “Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?” (Rut 2:10).

Boas, pria yang menunjukkan belas kasihan kepada Rut itu, menjawabnya dengan jujur. Ia berkata bahwa ia telah mendengar tentang perbuatan baik Rut terhadap ibu mertuanya, Naomi, dan pilihannya untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan mengikuti Allah Naomi. Boas berdoa agar Allah, “yang di bawah sayap-Nya [Rut] datang berlindung”, akan memberkati Rut (1:16; 2:11-12; lihat Mzm. 91:4). Dengan menikahi Rut dalam keberadaannya sebagai kerabat yang wajib menebus (Rut 3:9), Boas pun menjadi pelindungnya dan salah satu jawaban atas doanya.

Seperti Rut, kita pun orang asing di bumi ini dan jauh dari Allah. Kita mungkin takjub atas pilihan Allah untuk mengasihi kita di saat kita tak layak untuk menerima kasih itu. Alasannya tidak terletak pada diri kita, melainkan di dalam Dia. “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Kristus telah menjadi Penebus kita. Ketika kita datang kepada-Nya untuk menerima keselamatan, kita pun dapat berlindung di bawah sayap kasih-Nya.

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.