Renungan Harian, 7 Oktober 2018
Yakobus 1 : 22

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.


Seorang pelayan Tuhan pernah menceritakan kisah ini kepadaku dalam khotbahnya :

Adalah seorang ayah dan ibu yang dianugerahkan empat orang anak laki-laki yang tinggal di sebuah pedesaan. Awalnya kehidupan keluarga ini sangat baik dan takut akan Tuhan. Waktu berjalan dan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, akhirnya ketiga anak laki-laki sang ayah akhirnya memilih untuk pergi ke kota. Perlahan, keluarga menjadi sepi karena setiap tahunnya satu persatu anak dari sang ayah berangkat ke kota. Namun ketika anak bungsu tamat dan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, ia tidak tega untuk meninggalkan ayah dan ibunya yang sudah tua hanya berdua di pedesaan kecil. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan pekerjaan ayah-nya yang adalah seorang petani agar ayah dan ibunya tidak pernah merasa kesepian. Waktu terus berlalu, sang ayah dan ibu pun telah tua renta dan akhirnya meninggal. Sementara ketiga saudaranya yang sudah sukses tidak ingin kembali lagi ke kampung halaman mereka.

Suatu ketika, anak bungsu yang menetap di desa menikah dan mempunyai seorang anak perempuan. Malam itu, anaknya tiba-tiba sakit dan harus dirawat di klinik terdekat. Karena penyakit yang serius, akhirnya dokter klinik menganjurkan agar anak tersebut dibawa ke Rumah Sakit. Dibutuhkan biaya yang lumayan banyak, sementara pekerjaan-nya sebagai petani tidak mampu membayar biaya pengobatan. Kemudian ia teringat dan ingin meminta tolong kepada ketiga saudaranya. Ketika ia mengutarakan niatnya, seorang saudara tertua yang sudah sukses dan menjadi pelayan di Gereja mengatakan “Maaf Dek, aku tidak punya uang, karena aku baru saja menebus mobil baru”. Mendengar jawaban itu Ia menjadi sedih, namun ia tidak menyerah. Kemudian ia meminta tolong kepada saudara yang kedua dan ternyata jawabannya tidak jauh beda, saudara yang kedua berkata “Telat sedikit kam ngata dek, baru saja aku membayar uang muka untuk rumah baru, jadi sudah tidak uang lagi dek”. Tangis mulai menetes  di matanya. Namun dengan langkah yang pantang menyerah, ia masih menyisahkan harapan untuk saudara yang ketiga. Namun, hasil tetap sama. Saudara yang ketiga juga mengelak dengan alasan baru saja membeli tanah sebagai investasi.

Ia menangis dan tidak lama kemudian ia mendengar kabar bahwa anaknya sudah tiada. Hari itu, disaat pemakaman anaknya, ketiga saudaranya datang ke desa untuk menghadiri, namun sebelumnya abang tertua berkata : “ Dek, kenapa anak kam bisa begitu cepat sekali meninggal ? Pasti ini karena hukuman Tuhan buat kam, pasti kam tidak rajin ke Gereja dan pelayanan..! “kata abang tertua.

Dengan tangis yang masih tersedu, kemudian sang adik menjawab abang-nya, katanya : “Aku memang tidak ingin rajin ke Gereja dan pelayanan bang, karena aku tidak ingin seperti kam. Aku takut menjadi pribadi yang dingin dan tidak berbelas kasihan ketika aku sama rajinnya ke Gereja dan pelayanan seperti kam. Aku takut menjadi seperti kam ketika aku rajin ke Gereja dan pelayanan.”

Menurut hematku, jawaban sang adik adalah sebuah pukulan yang keras, ketika kita sebagai anak Tuhan tidak mampu menjadi pelaku Firman di dalam kehidupan. Bukan-nya menjadi jawaban, tetapi malah menjadi batu sandungan.

Dari cerita ini kita boleh belajar betapa yang Tuhan inginkan adalah menjadi pelaku Firman Tuhan dan bukan hanya pendengar saja, sehingga kita dimampukan untuk menjadi jawaban bagi banyak jiwa yang sungguh haus akan kasih.

Sama seperti Tuhan Yesus yang telah menyegarkan jiwa kita melalui kasihNya, marilah kita juga meneladani sikap Yesus untuk menyebarkan kasih dan menjadi pelaku Firman dalam kehidupan, sehingga upah sorgawi akan menjadi milik kita.

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.