Renungan Harian, 07 Februari 2019
Tuhan Merencanakan Pertolongan Melalui Ester

(Ester 2:5-11; 15-17)

Ester merupakan nama Persia yang artinya bintang. Dia adalah seorang perempuan Yahudi yang telah tinggal bersama dengan pamannya Mordekhai. Pada saat itu Ahasyweros (putra Darius, raja Media-Persia) kembali merindukan seorang Ratu (dahulu yang menjadi Ratu adalah ratu Wasti. Tetapi pada suatu ketika dia menentang perintah Raja, dimana pada saat ada perjamuan besar, sang Ratu tidak mau menghadap Raja untuk memperlihatkan kecantikannya kepada semua rakyat dan juga pembesar-pembesar kerajaan (Ester 1:11-12), dan akhirnya sang Raja menceraikannya). Sesudah peristiwa-peristiwa tersebut usai, dan kemarahan raja Ahasyweros surut terkenanglah sang Raja kepada Wasti dan kepada apa yang telah dilakukannya, dan juga kepada apa yang telah diputuskan kepadanya. Oleh sebab itu, seisi kerajaan mengusulkan kepada Raja agar Raja memilih seorang Ratu yang baru bagi dirinya diantara para perawan cantik dari negeri itu.

Raja Ahasyweros mencintai Ester melebihi para perempuan lain sehingga memilihnya untuk menjadi Ratu. Tidak lama kemudian, Mordekhai menemukan adanya komplotan untuk melawan Raja. Melalui Ester masalah tersebut dilaporkan kepada Ahasyweros sehingga orang-orang yang berniat jahat itu dihukum.

Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka diangkatlah Haman bin Hamedata, orang Agag. Raja mengaruniakan kebesaran, pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan Raja. Setelah menjadi orang penting di Kerajaan (orang kedua di Kerajaan), Haman merasa dirinya berkuasa dan hebat. Dan ia menyuruh semua orang untuk patuh dan menyembah dia. Mordekhai menolak untuk menyembah kepada Haman, hal ini menyebabkan Haman marah kepada Mordekhai dan bangsanya (Israel). Oleh sebab itu, Haman bermaksud untuk memusnahkan orang Yahudi. Melalui undi (Pur), tanggal pembantaian orang Yahudi telah ditentukan oleh Haman dan Haman menjanjikan untuk menyerahkan semua harta rampasan mereka kepada Raja.

Pada awal bulan April tahun 474 SM, Haman meminta nasihat para ahli nujum dan juru ramal untuk menetukan hari pembantaian yang direncanakan tersebut. Kekuasaan Allah tampak sangat jelas dalam kejadian itu, sebab pada saat mereka membuang undi, hasil undian jatuh pada tanggal 13 dari bulan ke-12 yang merupakan bulan terakhir, sehingga memberikan kesempatan untuk membongkar komplotan Haman.

Haman menunjukkan kelicikannya yang hebat melalui usulannya kepada Raja. Dia menyadari dan memanfaatkan bahwa raja Ahasyweros sangat mementingkan dirinya sendiri. Haman memperoleh kesempatan untuk memusnahkan orang Yahudi dan meyakinkan sang Raja bahwa orang-orang Yahudi menolak untuk menaati hukum-hukum yang dibuat Raja, juga harta mereka akan sangat memperkaya perbendaharaan harta Raja. Keunikan dari hukum dan adat Israel senantiasa menyebabkan sakit hati orang-orang bukan Yahudi yang tidak beriman (Bilangan 23:9; Kisah Para Rasul 16:20,21). Namun tidak dapat dikatakan bahwa mereka tidak menaati hukum-hukum negara dimana mereka tinggal, terkecuali jika mereka harus menyembah sesama makhluk ciptaan (Bnd. Daniel 3:12; 6:10).

Melihat kesengsaraan yang dihadapi orang Yahudi, membuat Mordekhai bersedih. Kesedihan Mordekhai yang besar menimbulkan tanda tanya pada diri Ester. Kemudian Ester mengetahui tentang adanya ketetapan yang dibuat Haman serta tentang keinginan Mordekhai agar Ester menghadap Raja. Mordekhai mendesak Ester untuk menghadap Raja, sebab hal itu merupakan tanggung jawab Ester kepada Allah. Ester berjanji akan menghadap Raja jika Mordekhai bersedia berpuasa bersamanya selama tiga hari. Demikianlah Tuhan merencanakan pertolongan untuk menolong orang-orang Yahudi di bawah kekuasaan Haman, melalui Ester yang dijadikan raja Ahasyweros menjadi Ratu menggantikan Wasti.

Melalui cerita tersebut kita dapat melihat dan merasakan bahwa Ester adalah seorang perempuan Yahudi yang cantik parasnya, pemberani dan baik hati. Dia mau menjadi penolong bagi bangsanya, bangsa Yahudi. Dia tidak takut kepada Haman, wakil Raja, tetapi dia hanya takut kepada Tuhan dan hanya mengandalkan Tuhan. Menjadi pertanyaan dan perenungan bagi kita: apakah PERMATA GBKP juga hanya mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan? Tiada Allah yang lain, termasuk gadget, uang, dan pemuas kebutuhan lainnya? Apakah PERMATA GBKP juga berani dan mau menjadi penolong bagi keluarga, bangsa dan Gereja seperti Ester? Seorang penolong adalah seorang yang peduli kepada orang-orang disekitarnya. Dan berani menyatakan dan melakukan yang benar.

Sumber : Pdt. Mira Mutianta Sinulingga, S. Th

Post Terkait