Renungan Harian, 14 Juni 2019
Mazmur 92 : 1 - 16

Mazmur  pasal 92 adalah sebuah nyanyian untuk hari Sabat. Bagi bangsa Israel, hari Sabat juga identik dengan waktu dan tempat istirahat bagi mereka yang mengalami kesesakan. Nyanyian ini diawali dengan pujian: “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan”.  Hal ini membawa kebaikan bagi kita karena kita dapat berpaling dari pikiran yang resah dan tidak tenang kepada pikiran yang memberitakan kasih setia Allah di waktu malam (ayat 3). Allah mengasihi kita dan selalu setia. Dia membuat kita selalu bersukacita (ayat 5).

Nyanyian pujian tidak hanya membuat kita bersukacita, tetapi juga membuat kita menjadi bijaksana. Ketika mendengarkan dan melantunkan nyanyian pujian, disanalah kita akan memahami sesuatu yang berhubungan dengan kebesaran Allah dan rancangan kreatif dalam segala sesuatu yang dilakukan Allah (ayat 6-10).  Kita mendapatkan hikmat yang tersembunyi bagi mereka yang tak mengenal Allah. Gambarannya seperti orang fasik  yang bisa “berkembang” dan “bertunas seperti tumbuh-tumbuhan” untuk sementara waktu (ayat 8), namun akhirnya mereka akan layu. Sebaliknya, orang benar dipersatukan dengan Allah yang tinggal dalam kekekalan (ayat 9). Orang benar akan “bertunas seperti pohon kurma” dan “seperti pohon aras di Libanon” (ayat 13). Inilah lambang keindahan yang anggun dan kekuatan yang kokoh. Itu semua karena orang benar itu telah “ditanam di Bait Tuhan” (ayat 14). Dan orang benar akan ditandai dengan “akar” yang sudah menancap masuk ke dalam lahan kesetiaan Allah; dan orang benar akan menikmati kasih Allah yang tidak pernah padam.

Bersyukur dan selalu bersyukur. Lantunkan puji-pujian hanya kepada Allah sang pemberi hidup. Jadilah orang benar yang senantiasa bersyukur akan kasih Allah yang terus menerus dia rasakan.

Demikianlah kiranya PERMATA GBKP merajut kehidupannya dalam ungkapan syukur dengan penuh pujian kepada Allah.

Sumber tulisan : Pdt. Mira Mutianta Br. Sinulingga, S.Th

Post Terkait