Renungan Harian, 04 Februari 2019
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang, padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran

Yakobus 1 : 17

Segala sesuatu yang baik adalah anugerah/pemberian yang sempurna yang diberikan kepada kita dari Tuhan. Pada waktu Tuhan menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya, Tuhan mengakhiri segala yang telah Ia ciptakan hari demi hari dengan mengatakan “.. Allah melihat bahwa semuanya itu baik..” (Kejadian 1 : 12,17, 21, 25). Artinya Tuhan selalu menjadikan segala sesuatunya baik dan Ia juga memastikan bahwa memang semuanya baik. Bahkan ketika Ia menciptakan kita manusia, dengan segala apa yang ada pada diri kita. Kita diciptakan dengan FirmanNya dalam kebenaran sehingga kita menjadi yang sulung dari segala ciptaanNya (Yakobus 1 :18).

Kebaikan Tuhan selalu konsisten adanya yang mengartikan tetap adanya. Ini terbukti dari Firman Tuhan dalam Ibrani 13 : 8 yang mengatakan “Yesus Kristus tetap sama baik kemarin hari ini dan sampai selamanya”. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang tetap sama dalam kasihNya, Tuhan yang tetap sama dalam segala perbuatan-perbuatanNya yang ajaib, Tuhan yang tetap sama yaitu Tuhan yang penuh dengan kuasa dan Tuhan yang tetap sama dalam segala hal yang ada pada diriNya. Di dalamNya, tidak ada perubahan dan pertukaran.

Pelajaran yang boleh kita dapat hari ini adalah jika kini kita pahami bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Tuhan, maka kita juga harus mengetahui bahwa segala sesuatu yang tidak baik, berarti bukan berasal dari Tuhan.

Lebih lanjut perikop ini mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang tidak baik itu berasal dari manusia itu sendiri. Manusia selalu dicobai oleh keinginannya sendiri dan apabila keinginan itu dibuahi ia melahirkan dosa dan apabila dosa sudah matang ia akan melahirkan maut (Yakobus 1 : 14 – 15). Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, maka dosa telah berkuasa atas manusia dan konsekuensi manusia yang telah berdosa, maka manusia harus keluar dari Taman Eden. Sejak saat itu, iblis memiliki kuasa untuk menyeret manusia ke dalam dosa dan maut. Dikatakan Firman Tuhan hari ini, bahwa iblis sering sekali mencobai manusia dari keinginan keinginannya yang dibuahi.

Yang dimaksud keinginan disini adalah keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, misalnya keinginan untuk menjadi kaya sehingga menghalalkan segala cara walau itu yang tidak seturut dengan Firman Tuhan. Ketika kita tahu korupsi adalah salah, namun ketika manusia tetap melakukannya, inilah yang dimaksud dengan keinginan yang dibuahi.  Pada akhirnya manusia berbuat dosa yang menghasilkan maut. Karena itu Firman Tuhan lebih lanjut dalam Keluaran 20 : 17 mengatakan “.. Jangan mengingini..”. Artinya ketika ambisi untuk mencintai uang itu datang dari dalam diri, kita harus segera kalahkan dan segera matikan keinginan itu menjadi “jangan mengingini itu”. Kita harus matikan keinginan itu dengan mengerti Firman Tuhan yang mengatakan bahwa  “ akar dari segala kejahatan adalah cinta uang..” (1 Timotius 6 : 10).

Memiliki cita-cita ataupun harapan akan kehidupan yang lebih baik tidak ada salahnya, namun semuanya harus dilandaskan dari Firman Tuhan. Tuhan juga menginginkan setiap anakNya sukses dan menjadi berkat dalam segala aspek kehidupan bagi orang lain sehingga nama Tuhan tetap dipermuliakan dari dalam diri kita. Namun  kita juga harus memastikan terlebih dahulu bahwa segala keinginan yang muncul dari dalam diri kita tetap berlandaskan Firman Tuhan, karena segala sesuatu yang baik selalu berasal dari Firman Tuhan.

Post Terkait