Renungan Harian, 12 November 2018
Kisah Para Rasul 20 : 24

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Bacaan : Kisah Para Rasul 20 : 17 - 24

Ini adalah Surat perpisahaan Rasul Paulus kepada penatua Jemaat di Efesus karena Ia pergi ke Yerusalem. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Surat Rasul Paulus ini :

  1. Ketika memberitakan Injil Kerajaan Allah, Paulus mengalami banyak pencobaan dari pihak Yahudi. Ia banyak mencucurkan air mata, namun ia tidak pernah menyerah. Ia, yang menjadi saksi tentang Yesus Kristus tetap bersaksi agar banyak orang percaya kepada Tuhan. Ia menderita bukan untuk kepentingannya, tetapi kepentingan banyak orang. Kasih Tuhan memang adalah kasih yang rela berkorban. Rela berkorban memberitakan kabar baik, walau tantangan tidak selalu mudah, tapi kita harus tetap percaya kalau Tuhan selalu menyertai. Bagaimana dengan pelayanan yang kita lakukan ? Sudahkah mencerminkan dan meneladani pelayanan yang Tuhan Yesus lakukan yang juga diteladani oleh Paulus ?
  1. Ketika Paulus pergi ke Yerusalem, Ia bahkan tidak mengerti apa yang akan terjadi di tempat barunya, namun Ia tidak gentar, bahkan Roh Kudus menyampaikan kepadanya kalau penjara sedang menantinya (ay 22), namun Paulus tidak mundur dalam pelayanannya, bahkan Ia katakan Ia tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun (ay 24). Yang terpenting baginya menyelesaikan pertandingan imannya hingga di titik akhir. Menjadi prajurit Kristus memang tidak lagi menghiraukan apa yang ada di depannya, tetapi ia tetap berfokus kepada tujuan awalnya, melayani Tuhan, memberitakan Injil Kerajaan Surga. Sudahkah kita memiliki keberanian dan mental seperti Tuhan Yesus yang diteladani oleh Paulus ?

Post Terkait