Aku Ingin Kuliah

Di dalam setiap diri insan, ada sebuah impian ataupun beberapa impian. Di dalam setiap diri insan ada pula jiwa optimis dan  jiwa pesimis. Biasanya yang pesimis hanya akan menyimpan impiannya di dalam angan.

Hai teman, kita hanya diberi kesempatan hidup satu kali. Jika kamu hanya menyimpan impianmu dalam angan, sampai kapanpun impianmu tidak akan tercapai.

Bergegaslah, mulailah langkahmu, bekerjalah, bergigihlah dan andalkan Tuhan dalam usahamu. Semua pasti bisa kamu capai.

 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1 : 37).

Namaku Emia, anak pertama dari tiga bersaudara. Ini adalah kisah tentang bagaimana perjuangan yang harus aku lewati untuk mneyelesaikan sekolah hingga tingkat perkuliahan. Puji Tuhan sekarang aku sudah menyelesaikan tingkat perkuliahan dalam waktu tiga setengah tahun (Cumlaude) untuk gelar Sarjana dengan IPK 3.67, walau banyak hal yang harus kualami sampai di titik ini dan itu tidaklah mudah.

Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Bahkan untuk menyelesaikan tingkat Sekolah Menengah Umum saja, butuh perjuangan yang sangat  melelahkan. Dimulai dari bekerja sebagai asisten sebuah keluarga. Selain menjadi asisten, aku juga harus berperan menjadi kakak asuh untuk ketiga anaknya selama dua tahun. Ini adalah masa yang sangat melelahkan bagiku. Waktuku seakan habis hanya untuk bekerja. Dimulai dari pukul 04.30 wib di pagi hari, aku harus melakukan pekerjaan mencuci piring, menyapu, mengepel, memasak, menyediakan sarapan, memandikan anak-anak untuk berangkat ke sekolah, menjemur pakaian, menyediakan dan membersihkan pakaian dan sepatu sekolah anak-anak dan juga pakaian kerja buat orangtua mereka. Kemudian setelahnya, aku baru bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Sepulang dari sekolah, aku harus kembali ke rumah mereka dan pekerjaan pun sudah menanti. Siang hari, aku harus memberi makan dan susu untuk ketiga anak mereka, menemani mereka untuk istirahat siang, menyapu rumah, menyetrika pakaian, mencuci piring dan memasak. Setelah orangtua mereka pulang dari bekerja, aku juga harus melayani sang ibu untuk melakukan pijat refleksi, perawatan lulur tiga kali dalam seminggu, membantu menghitung pemasukan keluarga mereka dan masih banyak pekerjaan yang lainnya. Malam harinya, aku harus memberi makan ketiga anak mereka dan juga menemani serta mengajari mereka dalam membuat Pekerjaan Rumah (PR). Terkadang aku harus menghela nafas untuk semua pekerjaan yang harus dilakukan. Bahkan untuk belajar saja, aku harus mengambil waktu sendiri di sela-sela kesibukan yang ada atau ketika orangtua mereka masih berada di kantor. Untuk semua pekerjaan ini, aku harus tinggal bersama mereka dan berpisah dari ibuku dan sebagai ganti dari setiap pekerjaan, aku menerima upah dari mereka yang aku gunakan untuk membayar uang sekolah.

Cita-citaku tidak berhenti sampai disini. Setelah menyelesaikan tingkat Sekolah Menengah Umum, aku bersikeras untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, menyadari keuangan keluarga yang tidak mendukung, akhirnya aku memilih untuk kembali bekerja. Kali ini, aku bekerja di salah satu Rumah Sakit Umum (RSU) sebagai staff gizi. Lingkup pekerjaannya adalah mengatur makanan diet untuk para pasien berdasarkan diagnosa Dokter. Sebagai staff, aku mengenal banyak sekali orang mulai dari teman sekerja, pasien yang memiliki sikap yang beragam, ada yang baik, cerewet sampai pasien yang kasar dan sedikit mengerikan, hingga keluarga pasien. Pasien diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu pasien biasa dan pasien dari Lembaga Permasyarakatan (LAPAS). Perasaaan juga sering bercampur aduk, terkadang aku bahagia dengan pasien yang baik namun tak jarang juga aku sering dibuat kesal dengan pasien dan keluarga pasien yang merasa tak puas dengan pelayanan yang ada. Namun diatas semua yang terjadi, aku lebih menikmati pekerjaan yang datang kepadaku kali ini. Dan ini semua kulakukan, demi sebuah tekad yang kuat, Perguruan Tinggi.

Di pergantian tahun, aku mencba untuk membuat surat permohonan untuk kuliah sambil bekerja, namun permohonanku ditolak oleh Pimpinan Perusahaan yang pada akhirnya aku harus berhenti bekerja. Dengan uang hasil tabungan selama bekerja dibantu oleh mama, aku memutuskan untuk masuk ke dalam dunia perkuliahan.

Ketika kuliah, pada waktu liburan semester, aku tetap bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Aku pernah bekerja di perusahaan Investasi, Restoran, menjadi guru les, mengawasi kantor tiket penerbangan hingga membuat kerajinan tangan. Sedangkan saat aktif kuliah, aku melakukan pekerjaan sampingan harian untuk mendapatkan uang seperti menjaga anak tetangga, menjual kerajinan tangan, menyetrika pakaian tetangga, menjadi guru les, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus yang terkadang ada upahnya. Itulah beberapa pekerjaan yang kulakukan demi memperjuangkan cita-citaku duduk di bangku perkuliahan.

Selama bekerja sambil kuliah banyak liku liku yang kulalui, namun  tidak membuatku menyerah. Justru membuatku tetap semangat, baik dalam kegiatan kampus ataupun kegiatan rohani. Selalu ada waktu untuk kegiatan rohani yaitu pelayanan, dibalik rutinitas mencari uang. Dari kegiatan rohani inilah yang menjadikanku tetap optimis, dan semangat demi meraih impianku.

Istilah “Usaha tidak akan membohongi hasil” itulah yang kualami. Meski sulit dan melelahkan, tetapi hasilnya sangat memuaskan. Aku mampu mendapatkan gelar sarjana selama tiga setengah tahun. Masa-masa itu membentukku menjadi pribadi yang mandiri. Sejak lulus SMU, aku selalu memenuhi kebutuhan pribadiku dengan uang yang kuhasilkan sendiri seperti membeli pakaian, alat make-up juga biaya harian dalam perkuliahan. Itu semua terjadi bukan karena kekuatanku  tapi karena  berkat Tuhan yang tak pernah ada habisnya di dalam hidupku. Tuhan juga meng-anugerahkan seorang mama yang tangguh di dalam kehidupanku. Hingga kini, aku tidak pernah lupa menyelipkan doa dalam segala usaha yang aku lakukan dan juga doa kesehatan dan umur panjang buat mama, karena aku bertekad ingin menghadiahkan sesuatu padanya suatu hari nanti ketika aku sudah memiliki uang yang cukup untuk memberikan hadiah itu kepadanya.

Sumber : Seorang PERMATA

Post Terkait