Rasa Kuatir Yang Diubahkan

Renungan Harian, 04 Januari 2019

1 Petrus 5:6-7

Sudah lama saya ambil bagian dalam pelayanan pemuda dan juga Ibadah Minggu di Gereja saya. Saya sering menjadi pemimpin pujian dalam sebuah Ibadah. Hal itu memang sangat saya senangi karena saya merasa bahwa seorang pemimpin pujian dapat memberikan rasa pada jemaat.

Seorang pemimpin pujian harus mampu merangkai kata-kata menjadi pesan yang positif dan tentunya meneguhkan iman percaya jemaat. Suara menjadi sangat penting bagi seorang pemimpin pujian. Suatu hari, saya bertugas menjadi pemimpin pujian dan seperti biasa bersama dengan para pemusik dan penyanyi kami melakukan latihan. Semua berjalan lancar, saya dapat berlatih dengan baik walau aktivitas saya sangat padat waktu itu. Tibalah hari Minggu di mana saya dan seluruh tim melakukan pelayanan Ibadah. Ibadah akan dilangsungkan pukul 6 sore, tetapi Minggu pagi itu, saya terbangun dengan kondisi batuk dan flu. Suara saya pun terdengar berat dan setiap berbicara diakhiri dengan batuk. Sangat tidak baik terdengar. Saya minum obat batuk dan masih harus menempuh 1 jam perjalan untuk sampai ke kota tempat saya melayani. Sepanjang perjalan saya manfaatkan untuk tidur, karena saya menyadari kurangnya saya istirahat. Setibanya di tempat tujuan, masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum pengulangan latihan dilakukan. Saya kembali memanfaatkan untuk beristirahat. Setelah bangun, saya masih batuk bahkan terdengar lebih berat.

Saya kembali berdoa, saya teringat bahwa Tuhan yang selalu layakkan. Bagian kita adalah menyerahkan segalanya pada Dia. Dalam doa saya katakan, “Waktu memang tinggal sedikit, namun Kuasa-Mu dapat bekerja dalam sebuah kemustahilan. Layakkanlah aku dalam pelayanan Ibadah sore ini. Jika pun setelahnya, batuk ini kembali padaku, aku sudah siap.” Obat batuk saya minum lagi, saya merasa sama saja. Saya menuju Gereja, dengan terus berkata dalam hati Tuhan pasti bekerja. Ibadah pun dimulai, salam pembuka dari saya terdengar tanpa batuk. Aku sadar kalau Roh Kudus sedang memakai saya. Sampai akhir Ibadah, tidak ada batuk yang mengganggu.

Di akhir Ibadah, saya tanyakan kepada rekan saya, apakah mereka ada mendengar saya batuk sepanjang Ibadah? Tak satu pun dari mereka mendengarnya. Saya katakan bahwa Tuhan sudah mengubah kuatir saya menjadi sebuah pelayanan yang baik. Batuk itu belum hilang, namun batuk itu tidak diizinkan Tuhan untuk mengganggu selama pelayanan berlangsung seperti kekuatiran saya. Saya sadar bahwa ada Tuhan yang harus dimuliakan dalam segala hal. Bukan saya yang bertugas sebagai pemimpin pujian. Rasa kuatir akan terus hadir, Tuhan mau kita menyerahkannya kepada-Nya karena Dia-lah yang memelihara kita.

Post Terkait