Renungan Harian, 11 Februari 2019
YESUS DAN 10 ORANG YANG SAKIT KUSTA

Lukas 17:11-19 

Injil menurut Lukas merupakan kisah yang paling lengkap tentang kehidupan Yesus yang masih bertahan sejak zaman rasuli. Seperti Injil Matius dan Markus, Injil Lukas dimaksudkan sebagai suatu pengkajian lengkap tentang karier sang Juruselamat sejak lahir hingga kenaikanNya. Injil (kabar baik) menurut Lukas mengemukakan Yesus sebagai Raja Penyelamat yang dijanjikan Allah untuk Israel dan untuk seluruh umat manusia. Dalam bukunya ini Lukas menulis bahwa Yesus telah diberi tugas oleh Roh Tuhan untuk menyiarkan Kabar Baik dari Allah kepada orang miskin. Kabar Baik ini penuh dengan perhatian terhadap orang-orang dengan berbagai-bagai kebutuhan. Nampak pula suatu nada sukacita dalam buku Lukas ini, terutama pada pasal-pasal pertama mengenai kedatangan Yesus, kemudian pada bagian penutupnya juga mengenai terangkatnya Yesus naik ke surga.

Di dalam Lukas 17:11-19, Injil Lukas melukiskan Yesus sebagai penolong yang besar, serta adanya pengajaran (kateketis) di pasal tersebut. Dalam pasal tersebut tergambar suatu pengajaran kepada orang banyak bahwa mereka boleh berseru kepada Penolong yang besar itu. Penolong yang besar dan sejati itu menolong kesepuluh orang penyakit kusta yang berteriak meminta kesembuuhan kepada Yesus. Dimana pada waktu Yesus dalam perjalananNya ke Yerusalem, dia melintasi perbatasan Samaria dan Galilea. Dan pada waktu Dia memasuki sebuah desa di daerah itu, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Ketika orang kusta itu ingin mendapat kesembuhan dari Yesus, Ia hanya hanya memerintahkan mereka pergi kepada imam-imam dan memperlihatkan diri mereka kepadanya. Yang tersimpul di dalamnya adalah bahwa iman mereka akan nyata melalui ketaatan. Kesemua orang dari mereka memperlihatkan iman sehingga mereka menjadi tahir (sembuh). Tetapi hanya seorang dari kesepuluh yang memuji Allah dan mengucap syukur kepada Yesus karena kesembuhannya. Orang itu adalah orang Samaria. Yesus mengomentari sikap mereka yang tidak tahu berterima kasih (kesembilan orang lagi adalah orang Yahudi). Yesus menekankan bahwa iman orang Samaria itu telah membuatnya sembuh dalam tubuh dan jiwa. Dari kisah tersebut, PERMATA GBKP dapat melihat sebuah pengajaran bahwa iman dapat mengerjakan mujizat dan juga pengajaran tentang perlunya sifat berterima kasih sebagai wujud dari iman yang dihidupi. Kita harus datang kepadaNya dengan hati yang penuh syukur buat apa yang telah dilakukanNya bagi kita.

Sumber : Pdt Mira Mutianta Sinulingga, S. Th

Post Terkait