Renungan Harian, 30 Agustus 2019
Amsal 14 : 17

"Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar."
Syalom, semangat pagi PERMATA!
Penulis kali ini mengambil ayat dari Kitab yang penuh dengan nasehat kebijakan untuk seturut hidup berkenan kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Dikatakan bahwa orang bijak adalah orang yang bersabar sementara orang yang bodoh adalah orang yang lekas naik darah.
Pergulatan tantangan dunia pada masa kini, terkadang memBawa kita pada keadaan yang begitu lelah dan letih tidak hanya secara raga namun hati. Terkadang hajaran Tuhan mengharuskan kita untuk mengintrospeksi ke dalam diri kita untuk segala sesuatu yang telah terjadi. Terkadang pergumulan kehidupan membawa kita pada sebuah keputusan, untuk marah secara bertubi-tubi atau memilih untuk bersabar dalam diam.
Tidak mudah memang, apalagi untuk hari-hari dan persoalan yang sedang hangat terjadi di dalam dunia Indonesia. Tidak hanya persoalan keberagaman agama, persoalan pendidikan, kekerasan disana disini, baik kepada anak kecil maupun kepada alam. Belum lagi masalah ekonomi yang terkadang membuat manusia sulit untuk bersabar dan mengabaikan Tuhan. Keinginan manusia untuk dimengerti tanpa mau mengerti adalah salah satunya yang juga menjadikan tingkat kesabaran seseorang hilang kontrol.
PERMATA, diatas semua yang terjadi, cobalah ambil waktu di dalam dirimu untuk berdiam dan berfikir kembali, ketika mengambil keputusan untuk marah atau memilih sabar. Firman Tuhan hari ini, mengingatkan kita untuk menjadi orang yang bijaksana yaitu dengan bersabar. Bersabar bukan berarti tidak boleh marah. Marah bila diperlukan tentu saja diperbolehkan. Marahnya anak Tuhan adalah ketika dunia kita tidak lagi seturut dengan kehendak Tuhan. Namun marahnya anak Tuhan adalah marah yang menegur dan bukan tempat meledakkan emosi apalagi berakhir dengan perkataan kebencian, karena jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah (Amsal 15 : 1). Marahnya anak Tuhan adalah marah yang mendidik ketika kesalahan terjadi. Lebihnya lagi, sebelum marah, setiap anak Tuhan harus mampu memandang semua yang terjadi dengan berlandaskan Firman Tuhan.
PERMATA, yuk kita belajar menjadi pribadi yang semakin sabar dari hari ke hari. Ada kalanya kita memang harus marah, namun marah-lah seturut dengan Firman Tuhan. Namun, anak Tuhan akan lebih banyak bersabar dan tidak lekas naik darah, apalagi merasa sakit hati (Amsal 12 : 16).

Post Terkait