Renungan Harian, 11 April 2019
Matius 7 : 12 – 14

“Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 12 : 14)

Tempat yang paling tepat untuk setiap orang percaya kelak adalah Surga dan bukan dunia ini, karena itu bila kita sadari, semakin sering kita membicarakan tentang Firman Tuhan dan mengaplikasikannya, banyak orang yang menolak kita. Itu karena dunia bukanlah tempat kita dan orang dunia tidak akan peduli dengan Tuhan. Orang dunia yang dimaksud adalah orang-orang yang hidup dalam hawa nafsu yang menyesatkan, keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup yang akan berakhir kepada kematian kekal. Sementara jalan orang benar akan menuntunnya kepada kehidupan. Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan kekal setelah Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dan kita akan beratatap muka dan memerintah bersamaNya, di dalam Kerajaan Surga kelak.

Dunia pada masa sekarang ini memang bukan Surga. Sebagai orang percaya, yang dapat kita lakukan di dunia adalah  “Menghadirkan Kerajaan Surga di tengah-tengah dunia” artinya, nuansa Surga yang telah kita pelajari dari Firman Tuhan, harus kita beritakan kepada semua orang dunia. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk memberitakan Injil Kerajaan Surga (Matius 28 : 19 – 20). Nuansa Surga yang dimaksud adalah kasih, sukacita, damai sejahtera dan masih banyak lagi. Kata Tuhan inilah yang aka ada di dalam Surga kelak. Karena itu, setiap orang yang tidak mendekat kepada Allah dan terus hidup seturut dengan dunia tidak akan mampu untuk berada di dalam Kerajaan Surga kelak, karena ia telah terbiasa dengan kehidupan dunia, yang tidak ada di dalam Kerajaan Surga kelak.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus tidak menginginkan seorang dombaNya terhilang, namun untuk mengikut Tuhan, semuanya tergantung kepada keputusan kita. Jika kam berkata Iya untuk Tuhan, maka hal yang harus dilakukan adalah meyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus.

Bukan perkara mudah memang, tapi bukankah tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita untuk melewati jalan yang sempit. Ini mengartikan bahwa secara manusia, memikul salib dan meyangkal diri bukanlah perkara yang mudah, namun bukan hal yang mustahil bagi Tuhan. Hanya ketika kita hidup di dalam Tuhan, kita dimampukan untuk melakukannya, walaupun standar sempurna hanyalah milik Tuhan. Karena itu masuklah ke dalam pintuNya Tuhan, maka nuansa sempurna akan menjadi milikmu. Memang untuk melakukannya, kita harus berkali-kali menyalibkan bahkan mematikan keinginan daging yang begitu melekat dalam tubuh kita dan untuk itu membutuhkan proses peleburan hingga ke akar-akarnya. Dan Tuhan katakan “hanya yang bertahan hingga kesudahannya-lah yang akan selamat”.

Selanjutnya Tuhan katakan “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Sungguh manis sekali ayat ini dan memiliki arti yang sudah sangat jelas. Yook PERMATA, kita praktekkan.

PERMATA, ketika hidup seturut dengan Firman Tuhan yang  engkau lakukan dan engkau mendapat penghinaan, cemoohan bahkan ditolak oleh orang-orang disekelilingmu, jangan pernah menyerah. Mungkin lelah akan datang menghampiri, namun percayalah bahwa akan ada kekuatan yang selalu baru di setiap harinya. Ingatlah, tidak ada kata “Menyerah” dalam kamus cintaNya Tuhan.

Post Terkait