Renungan Harian, 29 Maret 2019
Efesus 4 : 26 - 27

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan jangan beri kesempatan kepada iblis.”

Dalam menghadapi pergumulan kehidupan atau ketika berinteraksi dengan banyak orang, seorang anak muda seperti kita pasti pernah merasakan kekecewaan yang membuat kita marah. Bisa disebabkan oleh pengkhianatan, sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau banyak hal lainnya. Menjadi seorang anak Tuhan, bukannya kita tidak boleh marah, karena memang kita tidak boleh menyimpan amarah di dalam hati, namun hari ini melalui Firman Tuhan kita belajar bahwa ada syarat marah ala Firman Tuhan.

Seorang anak Tuhan boleh saja marah, namun marah-nya anak Tuhan adalah marah karena Firman Tuhan. Marah ketika Firman Tuhan dijadikan lelucon, marah ketika kebenaran Firman Tuhan mulai disalahartikan atau maknanya dibelokkan. Intinya marah-lah karena Firman. Marah-nya anak Tuhan  adalah marah yang menegur, ketika Firman Tuhan tidak lagi sesuai dalam kehidupan.

Lalu bagaimana cara menegur ala Firman Tuhan ?

Dalam Matius 18 : 15 menjelaskan bahwa “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika dia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatkannya kembali. Selanjutnya ketika marah janganlah kita berbuat dosa, karena dosa adalah pelanggaran terhadap Firman Allah (1 Yohanes 3 : 4). Maksud dari kalimat ini adalah ketika marah jangan pernah timbulkan kebencian di dalam hati, karena kebencian adalah salah satu produknya iblis dan tentu saja itu adalah dosa. Marah seperti inilah yang kata Kitab Kolose tidak boleh ada dan harus dibuang (Kolose 3 : 8). Jadi marah-nya anak Tuhan adalah marah tanpa kebencian.

“Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu”. Artinya ketika marah, marah-lah sesuai dengan Firman Tuhan, namun yakinkan dalam hatimu bahwa tidak ada kebencian dalam marahmu dan kamu harus pastikan marah-mu selesai saat itu juga. Karena bila tidak, amarah itu tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1 : 20).

Jadi, tetaplah ingat, bahwa anak Tuhan boleh saja marah, tetapi marah-lah karena Firman. Marah-nya anak Tuhan bukanlah marah dengan memaki-maki, merendahkan orang lain atau mengeluarkan kata-kata kotor dari dalam mulut.

Post Terkait