Tanda dan Perasaan

Renungan Harian, 08 September 2018

Matius 16 : 1-4

Seorang pemuda yang saya kenal memiliki kebiasaan untuk meminta tanda kepada Allah. Sikap itu tidak selalu salah, tetapi doa-doa yang dinaikkannya cenderung meminta konfirmasi atas perasaannya. Sebagai contoh, ia akan berdoa, “Tuhan, jika Engkau ingin aku melakukan X, tolonglah Engkau melakukan Y, maka aku akan tahu bahwa Engkau berkenan atas hal itu.”

Hal tersebut menciptakan suatu dilema. Karena caranya berdoa dan anggapannya tentang cara Allah menjawab doanya, ia merasa bahwa ia harus kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Di sisi lain, mantan pacarnya justru merasa sangat yakin bahwa Allah tidak menghendaki mereka kembali bersama.

Para pemimpin agama di zaman Yesus pernah menuntut tanda dari-Nya untuk membuktikan keabsahan dari pengakuan-pengakuan-Nya (Mat. 16:1). Mereka tidak sedang meminta petunjuk dari Allah, melainkan sedang menantang otoritas-Nya sebagai Tuhan. Yesus menjawab, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda” (ay.4). Respons tajam dari Tuhan Yesus itu tidak dimaksudkan untuk mencegah orang mencari petunjuk dari Allah. Sebaliknya, Yesus menuduh mereka telah mengabaikan nubuat-nubuat dalam Kitab Suci yang jelas-jelas mengisyaratkan bahwa Dia adalah Mesias.

Allah ingin kita mencari petunjuk dari-Nya melalui doa (Yak. 1:5). Dia juga memberi kita bimbingan melalui Roh Kudus (Yoh. 14:26) dan firman-Nya (Mzm. 119:105). Dia menyediakan para pembina rohani dan pemimpin yang bijaksana. Dan Dia telah memberi kita teladan dalam diri Yesus.

Meminta Allah untuk memberikan arahan yang jelas memang merupakan sikap yang bijaksana, tetapi Dia tidak selalu memberikan petunjuk-Nya dengan cara-cara yang kita harapkan atau inginkan. Yang mungkin lebih penting dari doa kita adalah bahwa kita semakin mengenal sifat-sifat Allah dan menikmati hubungan pribadi yang semakin erat dengan Allah Bapa kita.

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.