Renungan Harian, 28 Maret 2019
Kisah Para rasul 6 - 8

Hari ini Firman Tuhan mengajarkan kepada kita tentang teladan Stefanus dalam ia melakukan pelayanannya yaitu :

Stefanus adalah seseorang yang penuh dengan kuasa dan hikmat. Ia adalah seorang yang pertama kali dipilih untuk melayani orang miskin. Selain itu, ia juga melakukan pelayanan pemberitaan Injil Kerajaan Surga dengan melakukan tanda dan mukjizat. Teladan inilah yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan yaitu melakukan pelayanan yaitu dengan kuasa dan menjadi jawaban bagi dunia (Matius 28 : 19-20; Kisah Para Rasul 1 : 8). Bila kita berbicara tentang kuasa, salah satu kuasa yang harus ada di dalam diri kita adalah kuasa menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1 : 12).

Di dalam melakukan pelayanan, ada saja orang yang tidak akan senang. Dalam kisah Stefanus, beberapa orang Yahudi pada masa itu malah “bersoal” yang mengartikan mereka ingin menjatuhkan Stefanus dengan pernyataan dan pertanyaan mereka, namun karena Tuhan berada di pihak Stefanus, ia mampu menjawab semuanya penuh dengan hikmat dan kuasa. Bukankah dalam melayani, kita juga sering diperhadapkan dengan hal yang seperti ini ? Terkadang ada saja yang membuat kita menjadi lemah, kebanyakan adalah karena masalah kehidupan atau pergumulan, pengkhianatan ataupun yang lainnya, namun belajar dari Stefanus, marilah kita menjadi anak-anak yang tidak takut dan gentar, karena bila Tuhan berada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita ? (Roma 8 : 31).

Dikisahkan karena tidak puasnya orang-orang pada masa itu, maka mereka mulai memfitnah Stefanus dengan mengatakan bahwa Tuhan Yesus yang ia beritakan adalah Tuhan yang meniadakan hukum taurat dan hukum Musa, padahal Tuhan Yesus yang diceritakan Stefanus adalah pribadi yang ingin menggenapi hukum taurat yang selama ini ada bagi kaum Yahudi (Matius 5 : 17-48). Namun hikmat yang ada di dalam diri Stefanus memberi kekuatan kepada Stefanus untuk menjelaskannya (Kisah Para Rasul 7).

Mendengar penjelasaan Stefanus, tercenganglah mereka, namun karena mereka mengeraskan hati, tetap saja sulit membagi mereka untuk menerima apa yang diperkatakan Stefanus. PERMATA, pernahkah kita menjadi orang-orang yang menentang seperti orang yang menentang Stefanus ? Sudah jelas Firman Tuhan melarang sesuatu, kita malah mengeraskan hati melakukannya ? Sudah jelas bersama Tuhan harus berjalan dengan iman, lalu seringkah kita mengerti Tuhan secara logika kita saja ? Jika ya, segeralah berbalik kepada Tuhan.

Stefanus akhirnya mati dilempari batu karena pelayaan yang dilakukannya. Tetapi sampai di akhir hidupnya, ia tidak pernah membenci orang-orang bahkan yang telah yang menyakitinya. Bahkan di saat terakhir, ia berkata : “Tuhan , jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka”.

Post Terkait