Renungan harian, 13 November 2018
Mazmur 131 : 1 – 3

Ada beberapa hal yang bias kita pelajari dari kisah ini :

  1. Mazmur ini adalah nyanyian Daud tentang menyerah kepada Tuhan. Maksudnya menyerah bukan menjauh dari Tuhan, tetapi menyerah yang dimaksudkan adalah seseorang yang berpasrah diri dan hati kepada Tuhan. Bersama Tuhan memang tidak boleh ada kesombongan. Kesombongan selalu diidentikkan dengan sikap mau benar sendiri atau dengan kata lain selalu merasa paling benar dengan dirinya tanpa memperdulikan kata Firman Tuhan, sangat suka sekali memamerkan segala pencapaiannya dan berkata semuanya karena dirinya dan bukan karena Tuhan, selalu berbicara semauanya dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain dan seseorang yang sangat suka sekali dipuji-puji oleh manusia. Orang yang sombong dan tinggi hati sama dengan orang yang dikatakan Alkitab sebagai orang yang congkak. Dan Alkitab mencatat bahwa Tuhan sangat membenci orang yang sombong. Mari kita lihat bagaimana kata Tuhan tentang ini (Amsal 8 : 13, Yesaya 2 : 12, Yesaya 23 :9, Yakobus 4 : 6, Filipi 2 : 2-3) dan masih banyak lagi.
  2. Tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar dan terlalu ajaib bagi kita bukan berarti kita tidak percaya mukjizat. Ya, mukjizat akan selalu tetap ada bagi orang percaya, karena Tuhan Yesus adalah Allah yang tetap sama dulu sekarang dan selamanya yaitu Allah yang sangat senang mengadakan mukjizat bagi anak anakNya yang percaya dan mencari Dia. Namun maksud dari ayat ini adalah Tuhan berfiman, janganlah kita memikirkan hal hal yang terlalu besar dan ajaib bagi kita. Janganlah kita memikirkan hal-hal yang tidak patut kita pikirkan (Roma 12 : 3), karena untuk segala sesuatu yang tak mampu kita pikirkan, itu adalah bagian pekerjaan Tuhan yang mulia yang akan digenapiNya dalam kehidupan kita. Memikirkan hal-hal yang terlalu tinggi bagi kita akan menjadikan kita strees yang berkepanjangan, bukannya dapat solusi malah pikiran semakin mumet. Itu tandanya, kita tidak mampu memikirkan apa yang Tuhan pikirkan. Sebaliknya, pikirkan hal-hal yang Tuhan ijinkan untuk kita pikirkan yang terdapat dalam Filipi 4 : 7 – 8. Dalam segala situasi pergumulan kehidupan, tetaplah berfikir seperti ini dan tetaplah yakin pada janji Tuhan akan kehidupan yang penuh sukacita dan damai sejahtera. Tentang segala kekuatiran, Tuhan berfirman dalam Filipi 4 : 6, katakanlah semuanya kepada Tuhan dalam doa dengan penuh dengan kerendahan hati dan ketulusan. Bagian kita, tetaplah semangat karena orang yang bersemangat dapat menanggung segala penderitaannya (Amsal 18 : 14, Filipi 4 : 13, 1 Petrus 5 : 7).
  1. Disapih memiliki makna adanya proses perubahan dari yang minum susu menuju proses pendewasaan dengan memakan makanan dewasanya. Kalau dipikir lagi, awal dari proses ini memang tidak enak, menuju proses yang dari bayi rohani menuju orang yang dewasa rohani. Prosesnya tidak mudah, tetapi perlu kita ingat bahwa bersama Tuhan tidak ada yang mustahil (Lukas 1 : 37). Anak anak yang disapih oleh ibunya, akan merasakan ketenangan karena ia sangat percaya kepada ibunya. Anak tersebut percaya, walau dalam proses disapih, asal ia dekat berbaring dengan ibunya, maka jiwanya akan aman. Begitu juga bila kita dekat dengan Tuhan, jiwa kita akan selalu diam tenang di dalamNya walau apapun situasi yang terjadi. Proses disapih ini sama dengan proses naik kelasnya iman kita dan pengalaman rohani kita bersama Tuhan. Proses disapih sama dengan meningkatknya pengetahuan kita akan Firman Tuhan. Tidak memerlukan susu lagi tetapi makanan keras (Ibrani 5 : 13 – 14). Pembahasan kita tentang Firman Tuhan tidak lagi hanya tentang bagaimana berbuat baik, tetapi harus lebih mendalam, misalnya saja pengertian tentang berkat dan kutuk, keselamatan, dsb. Proses disapih sama artinya dengan proses didikan Tuhan bagi kehidupan kita, latihan iman yang Tuhan sediakan bagi kita agar kita memiliki iman yang teguh di dalamNya dan agar kita tidak menjadi anak gampangan yang seturut dunia melainkan menjadi anak anak Allah yang sejati (Ibrani 12 : 5 – 10).
  2. Pengaharapan di dalam Tuhan adalah salah satu senjata rohani untuk kita tetap kuat menghadapi apapun situasi kehidupan. Proses pengharapan di dalam Tuhan memang tidak selalu mendatangkan sukacita tetapi hasil dari pengharapan bersama Tuhan, TIDAK AKAN MENGECEWAKAN (Roma 5 : 2 – 5). Dan pengharapan bersama Tuhan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6 : 19). Sauh adalah tali penahan kapal ketika kapal sedang berlabuh di dermaga. Tali ini terbuat dari bahan yang sangat kuat, bayangkan saja tali ini dapat menahan lajunya kapal yang sedang berlabuh di dermaga. Karena itu dalam segala perkara, tetaplah miliki pengaharapan bersama Tuhan di dalam hati karena kita tidak akan pernah kecewa dan pengharapan di dalam Tuhan adalah sesuatu yang kuat bagi kita.
  3. Ayat 3 mengatakan ” Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel, dari sekarang sampai selama lamanya.Israel disini mengandung makna setiap orang pilihan Tuhan, karena bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Dan kini, bangsa pilihan Tuhan itu bukan hanya kepada bangsa Israel, tetapi seluruh bangsa yang dipilih dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruslamat, termasuk kita, para PERMATA GBKP. Jadi, dalam segala situasi, percayalah dan berpengharapanlah kepada Tuhan.

Post Terkait