Titik Terendah

Renungan Harian, 17 September 2018

Mazmur 22:1-3

David adalah seorang pegawai toko emas yang mempunyai sifat yang gesit, ulet dan berambisi. David sangat tertarik dengan dunia saham. Dia memiliki sebuah harapan bahwa dimasa yang akan datang David ingin menjadi seorang pengusaha yang luar biasa. Keinginan ini ternyata bukan sekedar khayalan, dengan kerja keras, bekerja paruh waktu kesana-kemari untuk mengumpulkan uang, sedikit demi sedikit David mulai menginventasikan uang hasil kerjanya dalam sebuah saham properti yang kala itu hampir gulung tikar. Kerja kerasnya membuahkan hasil, saham properti yang kala itu hampir bangkrut kini mulai bangkit dan memberikan keuntungan yang besar bagi David dan mempertemukan David dengan teman-teman baru. Kehidupan yang awalnya menyedihkan berubah menjadi layak karena hasil kerja keras David hingga akhirnya ia mengalami kebangkrutan yang parah karena dikhianti oleh teman sekerjanya. David sangat marah, benci, bahkan kecewa kepada Tuhan pada saat itu. Ia berkata bahwa Tuhan tidak sungguh adil membuat hidupnya seperti ini, semua kehidupan mewahnya sirna begitu juga dengan teman-teman yang menghilang tanpa jejak.

Tidak beda jauh dengan David, seorang Daud sebelum menjadi raja bagi Israel, ia merupakan seorang gembala yang menyayangi ternaknya. Daud hidup ditengah-tengah sikap saudara-saudaranya yang iri kepadanya. Daud memulai dari awal hingga akhirnya berada dipuncak kehidupannya sebagai seorang raja Israel. Dalam Mazmur 22:1-3 ini sesungguhnya berisi bagaimana kebingunan dan keluhan Daud dimana pada saat itu Daud bercerita bagaimana ia mengalami tekanan oleh musuh-musuhnya, Daud dipermalukan dengan kata lain ia berada dititik terendahnya dimana tidak ada yang bisa membantunya, dan kemudian Daud berpikir bahwa Allah meninggalkannya, tidak mau mendengarkannya dan bahkan seruan Daud tidak didengar oleh Allah.

Bisa saja pada saat kejadian itu Daud berhenti untuk mempercayai Allah, karena seruannya dihiraukan oleh Allah, kesakitannya tidak kasihani Allah. Namun, yang Daud lakukan bukan merutuki Allah ataupun pergi meninggalkan kepercayaannya kepada Allah, jika diteruskan hingga ayat 22 yang terjadi ialah Allah menjawab seruan Daud, doa Daud, keluh kesah Daud. Tindakan yang ditunjukkan Daud dalam menghadapi kebingungan ataupun titik terendahnya sangat berbanding terbalik dengan tindakan yang diambil David ketika menghadapi kebangkrutannya.

Setiap manusia pasti mempunyai titik teratas dan terendah dalam kehidupannya, baik dalam masalah finansial, pendidikan, kisah percintaan, hubungan keluargaan dan banyak hal lain. Allah bukan buta, tuli, ataupun tidak peka dalam memperhatikan kehidupan kita, namun Allah yang kita sembah ialah Allah yang mencintai proses dan cemburu. Allah ingin melihat kita tumbuh dan berkembang dalam setiap proses kehidupan kita, begitu juga pada titik terendah kita. Allah ingin menguji bagaimana tindakan dalam menghadapi titik terendah, apakah kita akan seperti Daud yang tetap setia menantikan pertolongan Tuhan atau beralih untuk meninggalkan rasa kepercayaan kita terhadapNya? Titik terendah menjadi sebuah cermin bagi kita untuk melihat apakah selama ini kita sungguh-sungguh mengandalkanNya atau tidak. Kehilangan harta benda, teman mungkin sangat menyakitkan, namun apakah hal itu sebanding dengan sakitnya ketika Allah berhenti untuk memperdulikan kita? (YS)

Post Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.