Renungan Harian, 26 Januari 2019
Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus

2 Korintus 3 : 5

Kehidupan orang Kristen akan selalu berbicara tentang siapa Tuhan Yesus yang ada di dalam dirinya. Galatia 2 : 20 mengatakan bahwa hidupku bukan aku lagi tetapi siapa Yesus di dalamku. Ketika Tuhan Yesus ada di dalam diri kita, maka kemerdekaan akan menjadi milik kita dan kita telah diubahkan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 3 : 17).

Dikatakan lebih lanjut, dari dalam gelap akan terbit terang! Ia juga membuat terangNya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak dari wajah Kristus. Dahulu, kita adalah kegelapan itu. Kita telah menjadi gelap karena dosa, tetapi terang Kristus telah membuat kita bercahaya, dan Ia ingin terangNya bercahaya di dalam hati kita sehingga kita dimampukan Tuhan untuk beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak dalam wajah Kristus. Artinya di dalam Kristus-lah terang itu dan hanya di dalam Kristus kita dimampukan Tuhan untuk beroleh terangNya.

Membawa terang Kristus mengartikan bahwa kita senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kita, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kita (2 Korintus 4 : 10). Tuhan Yesus telah menang dari kematian kekal dan Ia telah dibagkitkan dari antara orang mati sebagai seorang yang sulung yang telah bangkit (1 Korintus 15 : 20).

PERMATA, mari kita menjadi terang yang telah Tuhan Yesus taruh di dalam diri kita, karena sesungguhnya Allah telah memilih kita untuk menjadi jawaban bagi dunia dan benih Illahi telah Tuhan letakkan di dalam diri kita. Kita-lah terang itu. Dalam mengikut Tuhan, terkadang memang tidaklah mudah dan Tuhan memang tidak menjanjikan semuanya akan terlihat mudah, tetapi percayalah kalau tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Dalam Paulus memberitakan Injil, ia mengalami saat-saat ditindas, namun ia tidak terjepit, ia kehabisan akal, namun tidak putus asa, ia bahkan dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian, ia dihempaskan namun tidak binasa (2 Korintus 4 : 8 – 9). Ini adalah bukti betapa bertanggungjawab-nya Tuhan atas kehidupan kita.

Post Terkait