Renungan Harian, 21  April 2019
Kebangkitan Yesus

Matius 28 : 1-10, markus 16 :1-8, Lukas 24 : 1-12, Yohanes 20 : 1-10

Tuhan Yesus yang mati di kayu salib adalah Tuhan yang benar benar mati dan dikuburkan. Sesudah Yusuf dari Arimatea menguburkan Yesus dalam kuburan yang baru, ia mengulingkan batu besar untuk menutup kubur Yesus. Ini membuktikan bahwa Tuhan Yesus benar benar mati dan dikuburkan (Matius 27 : 70 – 66). Dalam kematianNya, Yesus turun ke dalam dunia orang mati untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah di dalam dunia orang mati. Memberitakan Injil disini sifatnya sebagai “Mendeklarasikan diriNya sebagai Tuhan dan Juruslamat yang telah dinubuatkan itu. Jadi memberitakan Injil bukan bersifat memberitakan Injil agar orang itu selamat, karena tidak ada lagi kehidupan yang mengejar keselamatan setelah kematian daging. Makna yang kedua, Tuhan Yesus ingin menjemput orang orang kudusNya yang ada di dalam Kerajaan maut menuju Firdaus yang ditandai dengan kuburan yang terbuka. Bagi orang yang percaya pada nubuatan tentangNya, maka ia akan selamat dan dibangkitkan sedangkan yang tidak percaya, tidak dibangkitkan. Ini untuk membuktikan bahwa Yesuslah sebagai “Yang Sulung dan Yang Pertama”. Ialah yang pertama bangkit dan hanya Dialah Tuhan yang berkuasa atas maut. Jadi sudah ada kebangkitan yang pertama dan pada saatnya nanti, Ia akan kembali menghakimi orang yang hidup dan mati kembali. Bagi yang percaya akan mengalami kebangkitan sedangkan yang tidak percaya akan tetap mati dan berujung kepada Neraka.

Ketika pada hari Sabat, mereka pergi ke kubur Yesus, mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu dan mereka tidak menemui mayat Yesus. Batu yang terguling ini membuktikan bahwa Yesus telah bangkit secara TUBUH dan ROH (Matius 24 : 2 – 3).Batu yang terguling mengibaratkan sebagai segenap pergumulan kehidupan kita seperti rasa khawatir, putus asa,kecemasan,ego,kesombongan dll. Dan hanya di dalam Yesus sajalah “batu” itu mampu digulingkan. Karena itu kita diajak untuk fokus kepada Tuhan karena hanya di dalam Dia kita dimampukan untuk mengulingkannya. Karena itu, mengaku dosalah, ampunilah kesalahan orang lain dan membiarkan Roh Tuhan dalam Roh Kudus hadir dan bekerja secara leluasa dalam kehidupan kita.

Kain kafan dan kain lenan yang sudah tergulung sekali lagi membuktikan bahwa Yesus bangkit secara Tubuh dan Roh (Yohanes 20 : 5 – 7), karena itu kehadiran Tuhan Yesus selalu ditandai dengan kehadiran TUBUH dan ROH.

Tuhan Yesus adalah Tuhan yang mulia. Ia mulia sejak Ia dikandung dari Roh Kudus. Ia mulia, karena Ia tidak mampu berbuat dosa dan tidak tahan dengan manusia yang berbuat dosa. Ia mulia karena Ia tetap setia menjalankan kehendak Bapa, mati disiksa dan dibangkitkan. Bahkan sebelum memulai perjalanan salib, Tuhan Yesus dalam doanya di taman Getsemani merasa sedih dan gentar. Sedih dan gentar melihat dosa dosa manusia. Ia sudah mengetahui apa yang akan dialamiNya dalam perjalanan salib, tetapi tidak sedikitpun Ia berpaling. Ia mulia dalam penderitaanNya menanggung peluh perjalanan Salib, Ia mulia dalam setiap tetesan suci darahNya yang mengalir untuk menebus pekatnya segenap dosa kita. Ia mulia ketika Ia dibangkitkan. Ia mulia sedari awal dan akhir, karena Dialah Alpa dan Omega.

Hanya Tuhan Yesus Kristus Juruslamat yang Mulia, yang BENAR sedari awal dan akhir. Dan hanya bila kita hidup di dalamNya, kita dibenarkan olehNya.

Post Terkait